Wednesday, December 26, 2012

Janjiku Padamu

Janjiku padamu..
Mengajakmu ke cahaya rembulan..
Menemanimu menggenggam impian..
Menggapai cita bukan sekedar angan..
Bersamamu menjadi pegangan..

Janjiku padamu..
Tersenyum melihat dunia..
Merekam indah panaroma..
Mengukir guratan cerita..
Melewati nestapa dan tawa..

Janjiku padamu..
Pecahkan kepingan keterpurukan..
Menguburnya bersama puing - puing keputusasaan..
Membakarnya dalam kobaran api keceriaan..
Membiarkannya terbang menjadi abu - abu kegalauan..

"25 Dec 2012" - malam petang

Saturday, December 22, 2012

Emak

Guratan keriput terlukis diwajahmu..
Cipratan warna putih keabuan memenuhi rambutmu..
Raga tak sehebat muda dulu..
Rentan kini hinggapi tubuhmu..

Emak, begitu kupanggil dia..
Emak, mengubah dunia..
Di dalam rahimnya hidupku bermula..
Dari darah menjadi manusia sempurna..

Emak begitu gigih dan semangat..
Membesarkanku hingga tumbuh sehat..
Berjuang dengan keringat..
Mencari uang agar hidupku nikmat..

Emak selalu terjaga..
Kala aku merengek di malam buta..
Memberikan apapun yang kuminta..
Memanjakanku dalam segala suasana..

Kini Emak telah menjadi tua..
Tapi, semangatnya tak pernah sirna..
Sikapnya selalu sama..
Menghujaniku dalam manja..

Emak, apakah aku bisa membalas cinta kasihmu?
Sementara hingga kini aku belum mewujudkan mimpimu..
Melihatku menjadi orang berguna dimatamu..
Membawamu melihat dunia yang ingin kutelusuri bersamamu..


Sunday, December 9, 2012

Mengejar Pagi



Langit masih berselimutkan awan gelap. Azan subuh membangunkan  tidurku yang lelap. Walau rasa kantuk masih tetap hinggap, selepas sholat aku pun bersiap – siap. Pakaian dan atribut sudah lengkap. Balutan T-shirt dan celana panjang telah melekat. Si merah juga sudah siap. Ia bertenger di teras depan berkilauan penuh semangat. Aku pun tak mau ketinggalan. Seribu semangat bergelora kian mantap. Bersama si merah aku pun berangkat. Meluncur menyongsong pagi yang memikat.
Aku menggayung pedal dengan santai. Lembayung nyanyian penyemangat menyeringai. Berbait – bait lirik lagu mengalun dari koleksi mp3 yang kusimpan. Menemani pagiku dalam kedamaian. Menghilangkan sejenak aroma kepenatan.
“Widih.., pagi – pagi tumben udah keluar?” kata ibu terheran – heran. “Assalamualaikum!” Aku jawab pertanyaannya dengan salam, sambil lalu melenggang pergi bersama si merah. Para tetangga yang mulai beraktifitas juga sempat heran menatapku pergi di pagi buta. Tapi, kemudian mereka tersenyum setelah kusapa.
Aku dan si merah meliuk – liuk. Melewati jalan yang belum terlalu sibuk. Menyapa kokokan ayam. Membangkitkan gairahku yang sempat tenggelam.
Tiba di persimpangan Gajah Mada, jalan kami terhenti sejenak. Kesibukan warga mulai tercium menyeruak. Ratusan pedagang dan pembeli asyik bercengkrama. Keramaian Pasar Badung begitu terasa. Suara peluit tukang parkir nyaring terdengar. Para tukang parkir sibuk mengatur kendaraan yang datang dan pergi. Silih berganti kendaraan masuk dan keluar dari pintu pasar. Asap kendaraan pun tak terelakan mengganggu kesunyian suasana pagi yang menghilang. Seperti biasa, suasana pasar makin ricuh bila banyak orang tak sabar keluar dari kemacetan. Alhasil, suara klakson semakin menghilangkan suasana pagi yang tenang.
Aroma pasar begitu menyengat. Aneka bau bercampur aduk menjadi satu. Sayur mayur dan aneka buah – buahan tampak menyegarkan. Namun, aroma sedapnya nyaris tenggelam ditutupi aneka bau amis daging hewani dan keringat manusiawi. Untung saja kemacetan tak menjebak kami begitu lama. Terbebas dari kericuhan pasar dan problema aneka aromanya, kami melaju lagi hingga menyapa patung Catur Muka. Sesuai dengan arti namanya, wajah patung ini terdiri dari empat muka yang sama. Letaknya tepat di bundaran antara jalan Veteran dan jalan Gajah Mada. Dekat dari tempat si Catur Muka singgah, lukisan hamparan rerumputan dan pepohonan menyambut sumrigah. Taman Puputan Badung, demikian ia diberi nama. Ia seolah merayu kami tuk singgah disana. Kami lihat hiruk pikuk taman Puputan Badung juga mulai bersua. Namun, kami tak lantas tergoda. Kami pun sekedar melintas melewatinya. Kami pergi mengejar sebuah tujuan sebelum semua sirna.
Kugenjot pedal lebih cepat. Berusaha menggapai suatu misi agar tak telat. Tak peduli walau bercucuran keringat. Demi sebuah tujuan yang memikat. Sesekali kuteguk air dari botol minuman yang kubawa. Lumayanlah, seteguk dua teguk air mampu mengembalikan semangat yang tiba – tiba mereda.
Lintas jalan lurus tak berliku mengantarkan kami. Sepanjang jalan Hayam Wuruk seolah menyemangati. Liku jalanan tampak bersahabat. Sesekali kami bebas meluncur pada jalanan menurun. Namun tak jarang kami temukan area jalanan naik dengan kemiringin tajam. Aku menikmati jalan ini sembari bersiul ikuti alunan lagu yang masih berdendang. Hingga tanpa kusadari, rombongan pecinta sepeda mengikuti. Mereka melenggang mulus dan akhirnya kami terlewati. Kaki – kaki jenjang nan kuat mereka mengalahkan kekuatan kaki kurusku. Namun aku tak perlu kecewa. Langit masih belum terlihat sempurna. Ku kayuh lagi pedal dengan semangat empat lima. Kami melewati kanan kiri toko – toko dan restaurant yang masih tutup. Kebisuan ragam bangunan itu seolah menatapku datar. Aku acuhkan tatapan kebisuannya, kala nyanyian kriuk – kriuk perutku secara tiba – tiba bersorak “lapar”.
Belokan jalan Hyang Tuah hampir dekat. Begitu juga atap bumi hampir saja terlihat. Semangat genjotan pedal lagi – lagi kupercepat. Kala tiba di lintasan Hyang Tuah, senyuman pun mencuat. Aku kayuh alunan pedal perlahan. Bersantai sejenak menikmati pemandangan. Tampak di kanan – kiri aroma kebun bunga – bunga menyapu indra penciuman. Pesona aneka tanaman sangat sayang untuk ditinggalkan.
Tak sampai lima menit berlalu, traffic light bersiap menyambut kami. Ujung lintasan Hyang Tuah berganti melepaskan kami. Membawa kami menerobos By Pass Ngurah Rai. Lurus melintas arena parkiran dekat pantai.

Cemas

"Tidaaaak! jangan sekaraaang..!!!" Aku berteriak didalam hati. Ramon telah duduk disampingku kini. Ia tersenyum - senyum. Pipinya merah merona. Terlihat dari wajahnya ia sedang dicandu asmara. Aku tersenyum geli melihatnya sembari menahan gejolak yang tiba- tiba datang tanpa permisi. Walau saat ini hati berbunga - bunga, jiwa seolah melambung ke angkasa, namun kecemasan kian menerpa. Aku mencoba menahan resah yang bergelora. Kupegang perutku sejenak sembari menghimpit kedua kakiku kuat - kuat hingga posisi dudukku menjadi salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Ramon padaku. Kujawab pertanyaannya dengan gelelengan pelan nan lesu.
"Tenang saja. Ibu baik kok, tak perlu cemas." katanya lagi.
"Iya." aku menyahut datar. Kakiku gemetar, sekujur tubuhku berkeringat. Kecemasan makin terasa.
"Sayang, kamu tidak apa - apa kan?" Ramon memastikan lagi seraya menatapku heran.
"Aku baik - baik saja." kataku terpaksa.
Tapi, wajahmu seketika pucat begini?"
"Benarkah? gak apa - apa kok, sayang. Hmm, tapi, berapa lama lagi Ibumu tiba?"
"Nah, itu dia datang!"

Ibu Ramon tiba. Ia terlihat sedang berjalan menghampiri kami berdua. Wajahnya memancarkan sosok ibu yang ramah. Aku tersenyum padanya dan dia pun membalas senyumku dengan tulus. Aku dan Ramon kemudian berdiri menyambutnya. "Ups!' kakiku semakin gemetar. Keringat dingin makin kurasakan. Perutku tiba - tiba terasa terkoyak - koyak tak karuan. Aku tak bisa menahan gejolak yang datang. Kecemasan makin menghantuiku lagi.

Ramon menyalami ibunya terlebih dulu. Begitu tiba giliranku menyalaminya, ibu Ramon tampak heran menatapku. 
"Loh, kenapa wajahmu pucat sekali, Nduk?" tanya ibunya.
"Ibu, boleh saya permisi sebentar?" kataku kemudian.
"Ia silahkan." Ibu Ramon tersenyum mengangguk padaku.

Sejurus kemudian aku berlari terbirit - birit.
"Sayang, ada apa?!" Ramon bertanya sedikit berteriak.
Tak kupedulikan Ramon dan tak kulihat wajahnya yang mungkin terheran - heran melihat tingkahku. Aku tetap berlari meninggalkan meja makan dan mencari toilet.

"Hfff..!" Akhirnya kecemasanku berakhir sudah. Aku duduk diatas closet seraya bernafas lega. Keteganganku melawan gejolak perut berakhir di toilet ini. Perutku terasa lega. Muka pucatku sirna seketika. Namun, aku tak tau cara menahan malu menghadapi calon mertua setelah ini.

Monday, December 3, 2012

Pasukan Merah

Dia menampakkan wajahnya penuh amarah. Senyum tak pernah terlihat dari raut mukanya. Alisnya selalu mengerut kebawah. Bibirnya selalu tampak manyun runcing kedepan. Matanya selalu tampak serius. Tak pernah kulihat wajah cerianya.

Kini aku bersama dirinya. Dia mengajakku ikut terjun kedalam pertempuran. Aku menjadi pendukung pasukannya. Teman - teman seperjuangannya telah siap dengan aneka kostum yang beragam. Beberapa ada yang berseragam merah persis sama seperti apa yang ia kenakan. Beberapa juga ada yang berseragam biru, kuning, putih, hitam, juga abu - abu. Kostum warna warni mereka menyemarakkan suasana pertarungan yang semakin tegang. Semangat perjuangan terdengar dari suara nyanyian perang mereka. "Hiya.. Hiya..!" suara - suara mereka bergemuruh membangkitkan semangat tempur didalam dada.

Di arena pertarungan babak pertama, aku dibantu tiga pasukan dari kawanan mereka yang berseragam merah. Mata mereka menyala. Sebagai pemegang ketapel raksasa, aku menjadi penentu kemenangan mereka. Maka, aku berusaha keras tak ingin mengecewakan mereka. Kuperhitungkan sudut arah ketapel harus kuarahkan kemana nantinya agar tepat mengenai rombongan musuh di depan sana. Mataku waspada mengintai target musuh. Salah satu pasukan merah sudah siap menjadi peluru. Sementara pasukan merah lainnya telah menanti dibelakang menunggu giliran. Kupincingkan mata sembari siap menarik tali ketapel berisi salah satu pasukan merah. "Cetaaaar..!" Pasukan merah pertama melambung tinggi ke angkasa setelah kutarik kencang tali ketapel. Ia kemudian jatuh mengenai beberapa kawanan musuh, terguling - guling merobohkan sebagian bangunan tempat markas musuh tinggal. Beberapa musuh berwajah bulat berlubang hidung besar, dengan kostum berwarna pink disana berhasil dilumpuhkan. "Hiya..! Hiyaaa...!" spontan suara - suara kemenangan pasukan merah berdendang.

Kulihat tinggal tiga pasukan musuh lagi yang masih tersisa. Kulakukan strategi yang sama lagi. "Cetaaar.. !" kali ini salah pasukan merah kedua melambung jatuh tersungkur merobohkan sebagian lagi bangunan. Namun, tidak berhasil melumpuhkan habis lawan. Kini pasukan merah terdiam. Hanya kesunyian yang kudengar. Aku merasa bersalah. Kususun stategi lebih matang. Kali ini aku harus berhasil. Pasukan merah ketiga ini adalah terakhir yang kupunya. Kutarik dengan kuat - kuat tali ketapel begitu strategi sudah siap. Akan tetapi ketika tanganku hendak melepaskannya, tiba - tiba semua menjadi gelap.
"Jiaaaaah...!" spontan aku berteriak menatap layar hitam diatas meja.
"Lha, kenapa?" tanya temanku yang sedari tadi sibuk bercengkrama bersama blackberry miliknya.
"Baterai drop, Man..!" kataku seraya menunjuk talenan canggih dihadapanku.
"Hihihi.. Angry Bird nya tadi sampai level mana? " ia kemudian bertanya sembari terkekeh mengejekku.

Sunday, December 2, 2012

Takut


Aku takut
Wajahku makin kusut
Ragaku kian lama menciut
Pikiranku pun makin kalut

Ragam ketakutan kian menyelimuti
Menjadi beban dalam diri
Mengingat penyakit ini sulit terobati
Mengingat waktuku tinggal sedikit lagi

Tapi, kemarin mereka datang kesini
Para relawan itu datang dengan semangat berarti
Memberi senyum yang berarti
Hilangkan ketakutanku yang  sempat menghantui

Walau waktuku terbatas
Walau kisah hidupku tinggal selembar kertas
Gerakan semangat kan tetap kusebar luas
Hari – hari kan selalu kuisi dengan ragam aktifitas

Selamat hari AIDS !

Larut Malam

Tiba - tiba aku terbangun pada malam yang masih larut. Tubuhku terasa lemas. Mataku terbuka menatap atap kamar yang masih gelap. Sekujur tubuh terasa berpeluh keringat. Bukan hawa dingin yang terasa, melainkan rasa gerah menyelimuti suasana malam kali ini. Tenggorokanku terasa kering. Rasanya aku terserang dehidrasi tingkat tinggi. Dan aku butuh segelas air. Maka, aku pun berusaha duduk sejenak diatas tempat tidur, baru kemudian mencoba berdiri menghidupkan saklar lampu di dekat pintu kamar. Dengan badan lunglai aku menggerakkan kenop pintu kemudian pergi melangkah keluar dari kamar.

Walau mata ini terkantuk - kantuk, aku berusaha berjalan perlahan dalam ruang gelap seraya meraba tembok. Aku berhasil lolos melewati ruang tamu menuju ruang dapur. Kubuka kulkas dan kurasakan betapa dahsyatnya hawa dingin yang menyambar tubuhku. Seketika tubuhku menjadi kering. Hawa sejuk menyegarkan menelusup ke pori - pori kulit.
"Glek.. !" Perasaan lega langsung mengalir membasahi kerongkonganku yang kering. Air dingin dari botol di kulkas meluncur mulus melalui mulutku.

Setelahnya pandanganku beralih pada penghuni kulkas yang lain. Mataku kini tak berkekuatan lima watt lagi, namun sudah terbuka lebar ketika kulihat makanan kesukaanku bertenger manis disana. Panggilan rayuannya tak terelakan telah menggoda hasrat ingin ngemilku yang tak terkendali. Kusobek balutan baju yang membungkus tubuhnya. Kudapati tubuhnya yang padat berwarna coklat makin menggoda dan menggiurkan lidah. Segera saja kugigit dan kutelan tubuh mungilnya. 
"Nyam.. Nyam.." segigit dua gigit coklat perlahan kunikmati sensasi kelezatan rasanya.

"Maling..! Maling..!" kudengar suara Ibu berteriak mengagetkanku. Aku buru - buru menutup kulkas kemudian berlari sembari menggenggam sisa coklat. Aku berlari kearah bayang - bayang ibu yang pada saat itu kulihat sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dekat dapur. Namun Ibu malah berlari ke ruang tengah menjauh dariku sambil berteriak kembali, "Maling..! Maling..!" Aku menyusulnya berlari dengan perasaan takut ditamabah lagi jantung kini berdegup.
"Ada apa Bu?" Ayah yang baru keluar dari kamar bertanya pada ibu setelah menghidupkan lampu di ruang tengah. Mata ayah langsung waspada.
"Itu, maling tadi kulihat di dapur." jawab Ibu dengan nafas tersenggal - senggal.
Jantungku yang tadinya berdegup kencang akhirnya menyurut seketika mendengar pernyataan Ibu.
"Itu aku, Bu." pernyataanku lantas disambut gelak tawa Ayah yang membahana.