Aku tahu ini yang terbaik bagi kita. Aku
tahu keputusan ini bukan inginku dan bukan pula inginmu. Namun, keadaan membuat
semua ini terjadi. Bagiku kau adalah malaikat penghias hatiku, belahan jiwaku,
sebagian hembusan nafasku. Bagiku selama ini kau adalah penghibur relung jiwa
yang sepi, penyemangat hati yang terkadang ingin berhenti mengejar mimpi. Aku
tahu ini bukan salah kita berdua. Aku tahu keadaan ini tak sejalan dengan
harapan kita. Aku yakin kau disana kan bahagia. Menempuh hidup barumu bersama
pria pilihan orang tuamu. Menjelejah dunia baru tanpaku, tanpa bayanganku
disisimu. Sedih memang menyesakkan dada. Bukannya aku tak mau saat kau minta
aku kembali kesisimu. Namun, aku tak mau melukai hati kedua orang tuamu.
Bukannya aku tak mencintaimu lagi. Namun, aku tak mau menjerumuskanmu dalam
duniaku yang penuh luka dan jerat kegelisahan ini. Karena aku bukanlah pria
yang akan memberikan keturunan bagimu kelak. Karena aku hanyalah wanita biasa
yang pernah berusaha menjadi sosok pria idamanmu. Dan karena kau mantan
terindahku yang tak mau hidupnya kuhancuri.
Monday, October 1, 2012
Menggenggam Dunia
Menggenggam dunia..
Akankah aku sampai kesana..
Menggenggammu dalam kepalan tanganku..
Menaklukanmu dalam bentuk semangatku..
Menggenggam dunia..
Ingin rasanya kugapai semua..
Impian yang telah lama kutuliskan..
Keinginan yang telah lama kusimpan..
Menggenggam dunia..
Inginku menggapai semua..
Walau rintangan silih berdatangan..
Walau terhalang oleh berbagai keluhan..
Akan kucoba merangkai angan..
Akan kucoba perjuangkan..
Menggenggam dunia yang kuinginkan..
Menggapai cita hingga ujung kehidupan..
Barisan coretan diatas bukanlah kutipan dari isi buku karangan
penulis fenomenal novel berseri Balada Si Roy, Gol A Gong yang
berjudul "Menggenggam Dunia". Itu merupakan hasil
coretan biasa yang terinspirasi setelah membaca judul buku terbitan PT. Gramedia,
Seri Rumah Dunia ini. Buku ini adalah buku autobiografi, dimana orang atau
tokoh inspirasi yang menuliskan kisah perjalanan hidupnya sendiri. Saya jarang
sekali menemukan jenis bacaan seperti ini, dimana orang yang meyakini kisah
hidupnya dapat menginspirasi orang banyak menuliskan sendiri kisah liku
kehidupannya dalam wujud sebuah buku.
Menggenggam Dunia, menceritakan perjalanan hidup seorang Gol A
Gong, penyandang cacat bertangan satu dari ia kecil hingga sukses meraih
mimpinya menggenggam dunia. Diceritakan bagaimana penulis saat kecil suka
berkhayal menjadi tokoh - tokoh superhero yang pernah ditontonnya dalam sebuah
film - film, ataupun dari buku - buku yang pernah dibacanya. Akibat timbulnya imajinasinya itu menyebabkan terjadilah sebuah kecelakaan
yang membuatnya harus kehilangan tangan kirinya.
Hilangnya satu tangan, tak membuatnya harus kehilangan kesempatan
untuk berkarya. Berkat dorongan kedua orang tua, ia tumbuh menjadi anak yang
pantang menyerah mengejar mimpi - mimpinya. Walau memliki satu tangan, ia
pandai bermain bulu tangkis. Walau berlengan satu impiannya sungguh narsis.
Menjelajah dunia, mengunjungi tempat - tempat tak terduga, berkelana dan
mengembara tak hanya di belahan bumi Indonesia, namun juga di belahan negeri
nan jauh disana. Sembari berkelana tak lupa ia berkarya lewat tulisan
perjalanannya. Dari tulisan - tulisan itulah ia mendapat dana melakukan
perjalanannya melintasi benua. Ia tak hanya menikmati keanekaragaman
pemandangan indah suatu negara, namun ia juga meneliti dan menelaah setiap
keunikan, sisi lain, dan hal - hal baru yang tak pernah dipikirkan oleh seorang
travelling biasa. Ia adalah traveler writer sejati, maka pantaslah saya ancungi
jempol atas lahirnya judul buku karyanya berjudul TEWE. Dari buku
tersebut ia berbagi mengenai teknis - teknis cara menjadi seorang traveler
writer yang menuliskan kisah perjalanan yang tidak biasa.
Buku Menggenggam Dunia ini tak hanya mengisahkan tentang
perjalanannya menjelajah negeri, namun juga berisi bagaimana ia berusaha
membangun sebuah taman baca yang dapat dinikamati oleh anak bangsa. Tujuannya
tak lain adalah membangun budaya kegemaran membaca bagi generasi penerus
bangsa. Maka, dengan kerja keras ia dibantu rekan - rekannya membangun sebuah
Rumah Dunia.
Masih banyak kisah - kisah lain tentang sang penulis yang kiranya
mengetuk hati pembaca yang tak mungkin saya jelaskan secara terperinci.
Intinya, tulisan pengarang setidaknya dapat menginspirasi saya, bahwa
kekurangan seseorang tak dapat menghalangi kemauan besar seseorang menggapai
impiannya. Impian menggenggam dunia yang terwujud dalam
sebuah karya tulisan - tulisan inspiratif.
Selamat Membaca.. :)
Wednesday, September 26, 2012
Kepergian Mereka
Kamar bernuansa biru itu
kini sepi tiada berpenghuni. Kamar mungil itu kini tak lagi ramai seperti hari
biasanya. Di kamar itulah tempat terindah mereka bertiga kala terlelap di malam
hari. Di kamar itulah aku bisa lihat mereka bertiga, anak – anak mungilku tidur
setelah sepanjang hari bermain. Mereka bertiga sudah aku anggap seperti anak
kandungku sendiri. Mereka bertiga belahan jiwaku, penghias hari – hari, temanku
dalam kesendirian, temanku dalam kerinduan. Walau sebenarnya mereka bertiga
bukanlah anak – anak kandungku sendiri, aku tetap menyayangi mereka. Ibu kandung
anak – anak mungilku masih berusia muda. Jadi aku paham mengapa ibu kandung
mereka kadang tak peduli apakah mereka sudah makan, sering pergi tanpa pesan
tetapi tetap kembali jika sudah lapar. Aku memaklumi ibu muda ini. Ibu yang
usianya jauh dibawahku, namun sudah melewati masa – masa kecilnya bersamaku
hingga sebesar ini.
Siang ini mentari terik
sekali. Aku menjadi malas keluar rumah. Jadi inilah yang aku lakukan kini. Duduk
di bibir pintu menghadap kamar mungil mereka, dan mencoba mengenang keberadaan
mereka dalam sebuah handphone. Didalam hanphone yang aku pegang kini terdapat
puluhan potret wajah anak – anak mungilku. Kupandangi satu per satu wajah –
wajah lucu dan imut mereka. Aku begitu menikmati tiap lembar demi lembar aksi
dan tingkah laku mereka yang berhasil aku abadikan. Ada berbagai pose yang
kadang mengundang tawa. Pose saat mereka tanpa sengaja tertidur diatas kasurku,
pose saat mereka berloncatan gembira bermain dengan mainan mereka, hingga pose
sadar kamera mereka lakukan layaknya model – model majalah.
Aku akui kerinduan akan
hadirnya anak – anak mungilku begitu mendalam. Aku akui kini aku hampa tanpa
mereka bertiga. Aku akui kini hatiku terluka menahan tangis. Merindu dalam
kenangan. Menagis dalam diam. Perlahan aku tak dapat menahan tangisku. Air mataku
tumpah ruah hingga pipi ini basah lagi. Aku pegang mataku yang sudah bengkak. Kelopak
mataku sakit. Mungkin warnanya sudah merah muda terlihat. Tangisanku yang
keluar perlahan tak dapat kubendung lagi. Kini aku menangis sesegukan, menahan
sesak luka didada. Terbayang lagi untaian – untaian kenanganku bersama anak –
anak mungilku. Terbayang kembali kisah kepergian mereka yang tak pernah kuduga
dan kuterka.
Friday, September 21, 2012
Nama yang S'lalu Ku Kenang
Ia
terbujur kaku di ranjang. Badannya tak dapat bergerak, matanya terbuka keatas
menghadap dinding kamar dengan tatapan kosong. Aku berdiri terpaku melihatnya
dari luar , tepatnya bersandar di bibir pintu kamar. Ia berada di dalam ruangan
kamar kosong yang khusus disediakan untuknya oleh nenekku semenjak ia tak kuat
lagi menggerakkan tubuhnya. Aku terdiam melihatnya terkapar tak berdaya diatas
kasur dipan. Aku masuk begitu Emak menyuruhku mendekatinya. Aku pegang kulit
tubuhnya masih terasa hangat. Namun, ia tak bergerak walau telah kusentuh. Kini
aku berada dekat melihatnya. Wajahnya masih tetap sama seperti yang aku kenal
selama ini. Namun, tubuhnya kurus berselimutkan sarung milik nenek. Tak lama
berselang, salah satu pamanku melipat kedua tangannya diatas perutnya, kemudian
menutup kedua matanya. Aku masih berdiri di dekatnya dalam diam. Aku lihat
disekelilingku. Semua anggota keluarga besarku telah berkumpul memadati
ruangan. Sebagian ada di dalam kamar, sebagian lagi menyebar di luar ruangan.
Mereka berlomba menahan isak tangis yang tak terbendung lagi. Emak menangis
sesegukan, begitu juga nenek menangis hingga jatuh pingsan berulang kali. Suara
tangisan makin kian menggelegar kala kudengar salah seorang bibiku menangis
sejadi – jadinya sambil merebahkan diri di lantai. Aku alihkan pandanganku kembali
padanya yang kini benar – benar tak bisa aku ajak bicara. Saat itulah air
mataku runtuh. Aku tidak menangis keras seperti yang bibiku lakukan tadi.
Namun, aku hanya menangis dalam diam sembari mengenang hari – hari yang telah
kulewati bersamanya.
Mungkin
banyak kepingan hariku bersamanya yang terlewat dalam ingatan. Namun untung
saja ada beberapa hal yang selalu aku ingat tentangnya. Salah satu kebiasaannya
adalah hobi minum kopi. Sering kali aku diajaknya ke warung kopi di warung
langganannya. Disana ia selalu senang berlama – lama menghabiskan waktu
bersantai sembari minum kopi bersama teman – temannya. Mungkin sepertinya aku tak
pernah absen mengikuti kegiatannya minum kopi, sampai – sampai
Thursday, September 20, 2012
Waktu Itu
16 Februari 2012 lalu
Hari bersejarah kami yg menyisakan rindu
Hari pertama kami mengarungi negeri baru
Berkelana ke negeri yang tak pernah kami tahu
Singapura adalah kota impian kami sedari dulu
Berpose bersama patung singa dengan senyum lugu
Berjalan mengarungi kota tanpa ragu - ragu
Berkeliling naik MRT dengan keceriaan menderu
4 hari 3 malam waktu itu
Hari yang penuh cerita seru
Hari yang kan terkenang selalu
Hari dimana ikatan sahabat semakin menyatu
Sahabatku jangan bosan mengulang masa itu
Menapaki dunia baru
Menikmati atmosfir alam, diiringi cerita persahabatan yg tak kan pernah berlalu
Jeritan Sang Petualang
Petualang..
Waktumu tak akan terbuang..
Jika pandai mencari peluang..
Harimu tak akan hilang..
Jika tahu cara bersuka riang..
Waktumu tak akan terbuang..
Jika pandai mencari peluang..
Harimu tak akan hilang..
Jika tahu cara bersuka riang..
Akulah sang petualang..
Yang punya mimpi segudang..
Walaupun sering tak punya uang..
Semua kan terwujud jika mau berjuang..
Yang punya mimpi segudang..
Walaupun sering tak punya uang..
Semua kan terwujud jika mau berjuang..
Gunung-gunung kan kudaki..
Lautan kan kuarungi..
Daratan kan kujelajahi..
Udara pun kan kuasai..
Lautan kan kuarungi..
Daratan kan kujelajahi..
Udara pun kan kuasai..
Begitu besar
cintaku tuk berkelana..
Begitu besar rinduku tuk kembali menjelajah..
Begitu besar semangatku tuk berkeliling..
Begitu besar hasratku tuk mengembara..
Aku merasa kehilangan..
Kehilangan waktu..
Kehilangan hari..
Kehilangan warna hidup..
Jika aku tak berpetualang..
Begitu besar rinduku tuk kembali menjelajah..
Begitu besar semangatku tuk berkeliling..
Begitu besar hasratku tuk mengembara..
Aku merasa kehilangan..
Kehilangan waktu..
Kehilangan hari..
Kehilangan warna hidup..
Jika aku tak berpetualang..
Friday, September 14, 2012
Aku Terbang
-->
Aku terbang..
Luas membentang..
Tanpa ada penghalang..
Aku terbang..
Menyongsong sinar
mentari yang benderang..
Tak peduli jika
kulitku menjadi sehitam belerang..
Aku terbang..
Bertemu kunang -
kunang..
Bercanda bersama
belalang..
Aku terbang..
Bukan jiwaku yang
melayang..
Namun hasratku ingin
berpetualang..
Aku Terbang..
Menggapai impian di
seberang..
Walau awan kian
menghadang..
Aku terbang..
Melewati setiap
perang..
Tanpa tahu kapan pulang..
Aku terbang..
Karena waktu masih
paanjang..
Aku harus tetap
berjuang..
- Mail -
Subscribe to:
Posts (Atom)
