Monday, October 1, 2012

Kau Mantan Terindah


Aku tahu ini yang terbaik bagi kita. Aku tahu keputusan ini bukan inginku dan bukan pula inginmu. Namun, keadaan membuat semua ini terjadi. Bagiku kau adalah malaikat penghias hatiku, belahan jiwaku, sebagian hembusan nafasku. Bagiku selama ini kau adalah penghibur relung jiwa yang sepi, penyemangat hati yang terkadang ingin berhenti mengejar mimpi. Aku tahu ini bukan salah kita berdua. Aku tahu keadaan ini tak sejalan dengan harapan kita. Aku yakin kau disana kan bahagia. Menempuh hidup barumu bersama pria pilihan orang tuamu. Menjelejah dunia baru tanpaku, tanpa bayanganku disisimu. Sedih memang menyesakkan dada. Bukannya aku tak mau saat kau minta aku kembali kesisimu. Namun, aku tak mau melukai hati kedua orang tuamu. Bukannya aku tak mencintaimu lagi. Namun, aku tak mau menjerumuskanmu dalam duniaku yang penuh luka dan jerat kegelisahan ini. Karena aku bukanlah pria yang akan memberikan keturunan bagimu kelak. Karena aku hanyalah wanita biasa yang pernah berusaha menjadi sosok pria idamanmu. Dan karena kau mantan terindahku yang tak mau hidupnya kuhancuri.

Menggenggam Dunia

Menggenggam dunia..
Akankah aku sampai kesana..
Menggenggammu dalam kepalan tanganku..
Menaklukanmu dalam bentuk semangatku..

Menggenggam dunia..
Ingin rasanya kugapai semua..
Impian yang telah lama kutuliskan..
Keinginan yang telah lama kusimpan..

Menggenggam dunia..
Inginku menggapai semua..
Walau rintangan silih berdatangan..
Walau terhalang oleh berbagai keluhan..

Akan kucoba merangkai angan..
Akan kucoba perjuangkan..
Menggenggam dunia yang kuinginkan..
Menggapai cita hingga ujung kehidupan..


Barisan coretan diatas bukanlah kutipan dari isi buku karangan penulis fenomenal novel berseri Balada Si Roy, Gol A Gong yang berjudul "Menggenggam Dunia". Itu merupakan hasil coretan biasa yang terinspirasi setelah membaca judul buku terbitan PT. Gramedia, Seri Rumah Dunia ini. Buku ini adalah buku autobiografi, dimana orang atau tokoh inspirasi yang menuliskan kisah perjalanan hidupnya sendiri. Saya jarang sekali menemukan jenis bacaan seperti ini, dimana orang yang meyakini kisah hidupnya dapat menginspirasi orang banyak menuliskan sendiri kisah liku kehidupannya dalam wujud sebuah buku. 

Menggenggam Dunia, menceritakan perjalanan hidup seorang Gol A Gong, penyandang cacat bertangan satu dari ia kecil hingga sukses meraih mimpinya menggenggam dunia. Diceritakan bagaimana penulis saat kecil suka berkhayal menjadi tokoh - tokoh superhero yang pernah ditontonnya dalam sebuah film - film, ataupun dari buku - buku yang pernah dibacanya.  Akibat  timbulnya imajinasinya itu menyebabkan terjadilah sebuah kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan tangan kirinya.

Hilangnya satu tangan, tak membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk berkarya. Berkat dorongan kedua orang tua, ia tumbuh menjadi anak yang pantang menyerah mengejar mimpi - mimpinya. Walau memliki satu tangan, ia pandai bermain bulu tangkis. Walau berlengan satu impiannya sungguh narsis. Menjelajah dunia, mengunjungi tempat - tempat tak terduga, berkelana dan mengembara tak hanya di belahan bumi Indonesia, namun juga di belahan negeri nan jauh disana. Sembari berkelana tak lupa ia berkarya lewat tulisan perjalanannya. Dari tulisan - tulisan itulah ia mendapat dana melakukan perjalanannya melintasi benua. Ia tak hanya menikmati keanekaragaman pemandangan indah suatu negara, namun ia juga meneliti dan menelaah setiap keunikan, sisi lain, dan hal - hal baru yang tak pernah dipikirkan oleh seorang travelling biasa. Ia adalah traveler writer sejati, maka pantaslah saya ancungi jempol atas lahirnya judul buku karyanya berjudul TEWE. Dari buku tersebut ia berbagi mengenai teknis - teknis cara menjadi seorang traveler writer yang menuliskan kisah perjalanan yang tidak biasa.

Buku Menggenggam Dunia ini tak hanya mengisahkan tentang perjalanannya menjelajah negeri, namun juga berisi bagaimana ia berusaha membangun sebuah taman baca yang dapat dinikamati oleh anak bangsa. Tujuannya tak lain adalah membangun budaya kegemaran membaca bagi generasi penerus bangsa. Maka, dengan kerja keras ia dibantu rekan - rekannya membangun sebuah Rumah Dunia. 

Masih banyak kisah - kisah lain tentang sang penulis yang kiranya mengetuk hati pembaca yang tak mungkin saya jelaskan secara terperinci. Intinya, tulisan pengarang setidaknya dapat menginspirasi saya, bahwa kekurangan seseorang tak dapat menghalangi kemauan besar seseorang menggapai impiannya. Impian menggenggam dunia yang terwujud dalam sebuah karya tulisan - tulisan inspiratif.

Selamat Membaca.. :)

Wednesday, September 26, 2012

Kepergian Mereka


Kamar bernuansa biru itu kini sepi tiada berpenghuni. Kamar mungil itu kini tak lagi ramai seperti hari biasanya. Di kamar itulah tempat terindah mereka bertiga kala terlelap di malam hari. Di kamar itulah aku bisa lihat mereka bertiga, anak – anak mungilku tidur setelah sepanjang hari bermain. Mereka bertiga sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri. Mereka bertiga belahan jiwaku, penghias hari – hari, temanku dalam kesendirian, temanku dalam kerinduan. Walau sebenarnya mereka bertiga bukanlah anak – anak kandungku sendiri, aku tetap menyayangi mereka. Ibu kandung anak – anak mungilku masih berusia muda. Jadi aku paham mengapa ibu kandung mereka kadang tak peduli apakah mereka sudah makan, sering pergi tanpa pesan tetapi tetap kembali jika sudah lapar. Aku memaklumi ibu muda ini. Ibu yang usianya jauh dibawahku, namun sudah melewati masa – masa kecilnya bersamaku hingga sebesar ini.

Siang ini mentari terik sekali. Aku menjadi malas keluar rumah. Jadi inilah yang aku lakukan kini. Duduk di bibir pintu menghadap kamar mungil mereka, dan mencoba mengenang keberadaan mereka dalam sebuah handphone. Didalam hanphone yang aku pegang kini terdapat puluhan potret wajah anak – anak mungilku. Kupandangi satu per satu wajah – wajah lucu dan imut mereka. Aku begitu menikmati tiap lembar demi lembar aksi dan tingkah laku mereka yang berhasil aku abadikan. Ada berbagai pose yang kadang mengundang tawa. Pose saat mereka tanpa sengaja tertidur diatas kasurku, pose saat mereka berloncatan gembira bermain dengan mainan mereka, hingga pose sadar kamera mereka lakukan layaknya model – model majalah.

Aku akui kerinduan akan hadirnya anak – anak mungilku begitu mendalam. Aku akui kini aku hampa tanpa mereka bertiga. Aku akui kini hatiku terluka menahan tangis. Merindu dalam kenangan. Menagis dalam diam. Perlahan aku tak dapat menahan tangisku. Air mataku tumpah ruah hingga pipi ini basah lagi. Aku pegang mataku yang sudah bengkak. Kelopak mataku sakit. Mungkin warnanya sudah merah muda terlihat. Tangisanku yang keluar perlahan tak dapat kubendung lagi. Kini aku menangis sesegukan, menahan sesak luka didada. Terbayang lagi untaian – untaian kenanganku bersama anak – anak mungilku. Terbayang kembali kisah kepergian mereka yang tak pernah kuduga dan kuterka.

Friday, September 21, 2012

Nama yang S'lalu Ku Kenang


Ia terbujur kaku di ranjang. Badannya tak dapat bergerak, matanya terbuka keatas menghadap dinding kamar dengan tatapan kosong. Aku berdiri terpaku melihatnya dari luar , tepatnya bersandar di bibir pintu kamar. Ia berada di dalam ruangan kamar kosong yang khusus disediakan untuknya oleh nenekku semenjak ia tak kuat lagi menggerakkan tubuhnya. Aku terdiam melihatnya terkapar tak berdaya diatas kasur dipan. Aku masuk begitu Emak menyuruhku mendekatinya. Aku pegang kulit tubuhnya masih terasa hangat. Namun, ia tak bergerak walau telah kusentuh. Kini aku berada dekat melihatnya. Wajahnya masih tetap sama seperti yang aku kenal selama ini. Namun, tubuhnya kurus berselimutkan sarung milik nenek. Tak lama berselang, salah satu pamanku melipat kedua tangannya diatas perutnya, kemudian menutup kedua matanya. Aku masih berdiri di dekatnya dalam diam. Aku lihat disekelilingku. Semua anggota keluarga besarku telah berkumpul memadati ruangan. Sebagian ada di dalam kamar, sebagian lagi menyebar di luar ruangan. Mereka berlomba menahan isak tangis yang tak terbendung lagi. Emak menangis sesegukan, begitu juga nenek menangis hingga jatuh pingsan berulang kali. Suara tangisan makin kian menggelegar kala kudengar salah seorang bibiku menangis sejadi – jadinya sambil merebahkan diri di lantai. Aku alihkan pandanganku kembali padanya yang kini benar – benar tak bisa aku ajak bicara. Saat itulah air mataku runtuh. Aku tidak menangis keras seperti yang bibiku lakukan tadi. Namun, aku hanya menangis dalam diam sembari mengenang hari – hari yang telah kulewati bersamanya.

Mungkin banyak kepingan hariku bersamanya yang terlewat dalam ingatan. Namun untung saja ada beberapa hal yang selalu aku ingat tentangnya. Salah satu kebiasaannya adalah hobi minum kopi. Sering kali aku diajaknya ke warung kopi di warung langganannya. Disana ia selalu senang berlama – lama menghabiskan waktu bersantai sembari minum kopi bersama teman – temannya. Mungkin sepertinya aku tak pernah absen mengikuti kegiatannya minum kopi, sampai – sampai

Thursday, September 20, 2012

Waktu Itu


16 Februari 2012 lalu
Hari bersejarah kami yg menyisakan rindu
Hari pertama kami mengarungi negeri baru
Berkelana ke negeri yang tak pernah kami tahu
Singapura adalah kota impian kami sedari dulu
Berpose bersama patung singa dengan senyum lugu
Berjalan mengarungi kota tanpa ragu - ragu
Berkeliling naik MRT dengan keceriaan menderu
4 hari 3 malam waktu itu
Hari yang penuh cerita seru
Hari yang kan terkenang selalu
Hari dimana ikatan sahabat semakin menyatu
Sahabatku jangan bosan mengulang masa itu
Menapaki dunia baru
Menikmati atmosfir alam, diiringi cerita persahabatan yg tak kan pernah berlalu

Jeritan Sang Petualang

Petualang..
Waktumu tak akan terbuang..
Jika pandai mencari peluang..
Harimu tak akan hilang..
Jika tahu cara bersuka riang..

Akulah sang petualang..
Yang punya mimpi segudang..
Walaupun sering tak punya uang..
Semua kan terwujud jika mau berjuang..

Gunung-gunung kan kudaki..
Lautan kan kuarungi..
Daratan kan kujelajahi..
Udara pun kan kuasai..

Begitu besar cintaku tuk berkelana..
Begitu besar rinduku tuk kembali menjelajah..
Begitu besar semangatku tuk berkeliling..
Begitu besar hasratku tuk mengembara..

Aku merasa kehilangan..
Kehilangan waktu..
Kehilangan hari..
Kehilangan warna hidup..
Jika aku tak berpetualang..

Friday, September 14, 2012

Aku Terbang



-->
Aku terbang..
Luas membentang..
Tanpa ada penghalang..
Aku terbang..
Menyongsong sinar mentari yang benderang..
Tak peduli jika kulitku menjadi sehitam belerang..
Aku terbang..
Bertemu kunang - kunang..
Bercanda bersama belalang..
Aku terbang..
Bukan jiwaku yang melayang..
Namun hasratku ingin berpetualang..
Aku Terbang..
Menggapai impian di seberang..
Walau awan kian menghadang..
Aku terbang..
Melewati setiap perang..
Tanpa tahu kapan pulang..
Aku terbang..
Karena waktu masih paanjang..
Aku harus tetap berjuang..

- Mail -