Gelisah membelenggu merasuki jiwa. Tangisan hati makin menyiksa. Hati selalu bertanya - tanya. Akankah suatu hari masa itu akan tiba? Akankah kebahagian akan kuterima? Betapa aku mendambakan peristiwa itu kan segera di depan mata. Saat kau katakan akan meminangku dengan wajah sumrigah dan penuh bahagia. Saat kau beri aku bunga sebagai lambang cinta. Dan melingkarkan sebuah cincin indah dijemariku sebagai pengikat janji setia. Kecemasanku makin menggila. Hingga saat ini peristiwa itu belumlah tiba. Mungkinkah suatu hari itu kan segera tiba? Ataukah bahkan tak ada? Atau hari itu hanyalah mimpiku belaka?
Thursday, October 11, 2012
Mengertilah
Mengertilah aku ini hanya manusia biasa. Yang tak mungkin ada di setiap waktumu. Mengertilah aku ini bukan penguasa. Yang selalu bisa menuruti inginmu. Mengertilah jika waktuku bukan hanya untukmu. Mengertilah walau separuh hatiku bersamanya masih tersisa ruang untukmu. Nafasku, detak jantungku masih ada sebagian untukmu. Aku tahu ini salah. Aku tahu jalan ini sungguh gila. Namun, cobalah mengerti keadaanku. Kau datang bawa cinta saat ku telah bersamanya. Kau penyusup cinta dalam hatiku. Yang terlanjur memeriahkan detak jantungku. Walau aku tahu kau begitu tersakiti. Namun cobalah mengerti. Biarkan waktu membawaku berpikir dan menentukan sampai dimana akhirnya hatiku harus kuserahkan sepenuhnya. Serahkan kepadamu atau kepadanya.
Aku dan Kamu
Tak pernah bosan rasanya
bekerja di perusahaan ini. Bagaimana tidak, walau pekerjaanku lumayan berat aku
puas mencuri kesempatan mencuri – curi pandang kearahmu. Itu aku lakukan hampir
setiap hari dari selama hari kerja berlangsung. Setiap pagi kesempatan untuk
berpapasan denganmu tak pernah mau aku lewatkan. Maka, begitu tiba di hotel,
aku bergegas melaksanakan tugasku di lobi hotel. Detik – detik pertemuan itu
selalu kunanti dengan harap – harap cemas. Walau pertemuan kita di lobi hanya
berkisar beberapa detik, namun itu bisa mampu mengobati kerinduanku.
Kulihat kau datang melangkah
dengan anggun memasuki lobi hotel. Seperti biasa pakaianmu menunjukkan sisi
feminism yang sangat kental. Seragam hotel kau padu padankan dengan blazer
serta rok pendek selutut ditambah lagi kaki indahmu terbungkus manis oleh high
heels yang membuat tubuhmu semakin jenjang. Bagaimana laki – laki tidak akan
terpesona melihatmu. Tubuh proposional bak kontestan Putri Indonesia, pakaian
yang kau kenakan saat bekerja selalu modis dan menjadi contoh karyawan –
karyawan wanita lainnya, dan rambut panjangmu hitam legam alami tak kau permak
mengikuti mode – mode jaman kini.
Hatiku bergetar setiap kau
lewati lobi hotel sambil sesekali kau sunggingkan senyum kepada karyawan –
karyawan lain yang kebetulan sedang bertugas di lobi. Inilah yang selalu
kunanti di setiap pagi. Melihatmu menebarkan senyum padaku walau aku tahu
senyummu hanyalah senyum ramah tamah terhadap sesama karyawan.
Kesempatan untuk melihatmu
tak begitu saja berakhir di lobi. Aku selalu mencari kesempatan melewati ruang
kerjamu, atau bahkan memasuki ruang kerjamu. Di ruang kerjamu memang bukan
hanya kau sendiri yang ada disitu. Baguslah, itu bisa membuat sikap salah
tingkahku tidak kentara bila berhadapan denganmu. Siang hari sebelum istirahat
berlangsung, kadang salah seorang temanmu atau kau sendiri memintaku untuk
dibuatkan kopi atau teh hangat. Wah, dengan penuh suka cita aku sambut tugasku
itu. Maka, saat sedang membuatkan kopi untukmu dalam hati aku berdo’a, semoga
kopi yang kubuat dengan cinta ini menarik hatimu tuk melihat hatiku, salah
seorang laki – laki pengagum rahasiamu. Haha, ada – ada saja. Terkadang aku
berpikir, mimpi tuk mendapatkanmu hanyalah sekedar khayalan belaka. Buktinya
hingga kini aku hanya dapat melihat indahmu dalam senyum bibir dan tatapan
keramah tamahanmu saja. Ya, sudahlah mungkin ini sudah nasib.
Ada satu hal yang selalu aku
perhatikan darimu. Tampaknya kau adalah wanita pekerja keras yang rajin. Aku
perhatikan kau selalu serius bila ada dihadapan computer. Aku pernah
mempelajari ilmu computer sewaktu SMA, itupun hanya sekedar tau cara mengetik
dan internetan. Tak terpikirkan olehku ternyata banyak program – program lain
dipakai didunia kerja saat ini. Pernah aku sedikit melirik ke layar komputermu,
berharap tau apa yang sedang kau kerjakan. Disitu aku melihat ribuan angka
dalam suatu program yang tak pernah aku ketahui selama ini. Ingin rasanya aku
membantu pekerjaanmu kala kulihat suatu kali dahimu mengerut hingga tiga lapis
bak berusaha memecahkan masalah berat dalam otakmu. Namun apadaya, aku tak
mengerti pekerjaanmu. Aku hanya bisa berdo’a semoga kau menemukan kemudahan
menyelesaikan tugasmu.
Selama setahun sudah hariku
di tempat kerja dipenuhi gelora asmara. Hatiku kasmaran. Selalu saja jantungku
berdetak, senyumku mengembang dan mataku seolah berbinar ketika aku melihatmu,
menatapmu, dan tersenyum padamu. Jantungku selalu berdegup saat aku lewat di
ruang kantormu, berusaha mengintip dirimu yang duduk konsen berhadapan dengan
computer. Senyumanmu membuat pipiku merona merah ketika berpapasan denganmu.
Maka dengan segera aku palingkan wajah supaya tak ketahuaan olehmu.Betapa aku
sangat senang akan setiap moment bersamamu. Walau aku tahu kau menganggapnya
hanya pertemuan biasa. Aku tahu, aku hanyalah pegawai biasa bahkan bisa
dibilang pegawai rendahan. Seorang laki – laki lulusan SMA, berbadan tinggi
kurus, namun hanya mampu diterima sebagai Cleaning Service di Hotel berbintang
5 ini. Maka, jadilah aku yang selama ini selalu tak pernah memberanikan diri
membuka percakapan pribadi denganmu mulai mengalami syndrome putus asa. Ingin
melupakan mimpiku tuk menggapaimu.
Rasa putus asa itu aku tunjukan
dengan berusaha menghindari moment – moment pertemuan yang pernah terjadi
sebelum – sebelumnya. Setiap pagi aku berusaha mengulur waktu bertugas di lobi
demi tak melihat kedatanganmu. Bila aku harus melewati ruang kerjamu, aku
berusaha tak mengintip wajahmu. Dan bila salah satu temanmu, atau kau yang
minta dibuatkan kopi atau teh, aku selalu meminta teman sesama CS untuk
mengantarkan minuman itu ke ruang kerjamu. Upaya – upaya itu aku lakukan demi
normalnya kembali hatiku, kosong tanpa dihiasi oleh bayang – bayangmu.
Perasaanku yang kacau balau
itu makin menorehkan luka di hati ini. Masih di tahun yang sama di bulan
ketiga, aku mendengar kau akan pindah ke lain kota. Kau diangkat menjadi Head
Accounting di cabang hotel yang sama namun di kota yang berbeda. Itu berarti,
kesempatanku bertemu denganmu akan benar – benar berakhir sudah.
Hari terakhirmu bekerja di
hotel ini dirayakan kecil – kecilan di sore hari, selepas pulang bekerja. Semua
karyawan hadir berkumpul di aula merayakan hari perpisahan denganmu. Aku juga
termasuk di dalamnya, bahkan aku turut andil mempersiapkan makanan acara
perpisahan. Hatiku kalut, penuh luka, dan penyesalan. Betapa aku kalut nan panik
merayakan kepergianmu yang tak terduga. Betapa hatiku luka dan kecewa akan
menghadapi hari – hari tanpa melihatmu. Betapa aku menyesal karena
belakangan ini aku berusaha menghindari
moment pertemuan – pertemuan kita yang ternyata hari ini adalah hari terakhirku
bisa melihatmu. Menatap indahmu walau hanya dari kejauhan.
Kau berpidato dihadapan para
bos, manager, pimpinan perusahaan dan karyawan – karyawan lainnya. Disitu kau
mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf – staf karyawan yang ada di aula.
Kemudian kau tiba – tiba menangis memandangi orang – orang yang selama ini
bekerja bersamamu. Kau tatapi satu persatu teman – teman dekatmu, hingga para
karyawan rendahan seperti aku ini. Saat giliran kau memandangiku, ada sebuah
getaran lagi yang membuat kakiku tak berkutik. Matamu kini benar – benar
menatapku beberapa menit sembari kau sunggingkan senyum khasmu yang membuatku
terpesona. Aku diam tak berkutik sembari menahan tangisan hati dan berusaha
membalas senyummu walau akhirnya senyum yang keluar dari bibirku terasa kaku. Ah,
betapa bodohnya diriku tak membalas senyumnya dengan tulus.
Itulah hari terakhir aku
melihatnya disini. Di tempat aku bekerja selama ini. Dimana hari – hariku penuh
warna dan bunga penghias hati. Tak akan aku lihat lagi wajah cantiknya, rambut
panjangnya, langkah kakinya, tingkah laku anggun dan ramahnya, serta senyum
manis yang selalu berhasil menyulutkan kobaran semangatku. Selamat tinggal
gadis pujaanku. Aku pengagummu. Dan selamanya hanya akan menjadi pengagum
rahasiamu.
Pagi itu aku termenung
seorang diri ketika hendak menaruh tas ranselku di loker. Saat itulah
terbelesit kembali bayangan wajahnya dalam otakku. Tak terasa ada buliran air
mata mengalir di pipi kananku. Segera aku hapus dan bergegas mengunci loker.
Kemudian aku pergi berlari mengambil perkakas kerjaku menuju lobi hotel.
*********************************************************************************
Tak pernah bosan rasanya bekerja di
perusahaan ini. Bagaimana tidak, walau pekerjaanku lumayan menguras otak aku
puas mencuri kesempatan mencuri – curi pandang kearahmu. Itu aku lakukan hampir
setiap hari dari Senin hingga Sabtu, selama hari kerja berlangsung. Setiap pagi
kesempatan untuk berpapasan denganmu tak pernah mau aku lewatkan. Maka, begitu
tiba di hotel, memasuki lobi hotel aku
selalu melihatmu ada disitu melakukan tugasmu. Detik – detik pertemuan itu
selalu kunanti dengan harap – harap cemas. Walau pertemuan kita di lobi hanya
berkisar beberapa detik, namun itu bisa mampu mengobati kerinduanku.
Kulihat kau dengan salah tingkah
tersenyum menyapaku. Seperti biasa kau selalu nampak mempesona dengan tubuhmu
yang tinggi berisi. Wajahmu yang lumayan tampan tetap membuatku terpesona walau
pekerjaanmu hanyalah tukang bersih - bersih. Mungkin ada banyak wanita yang terpesona
melihatmu. Tubuh proposional bak model majalah, rambut plontosmu semakin
menunjukkan sisi kharismatik seorang pria.
Hatiku bergetar setiap aku lewati
lobi hotel sambil mencuri kesempatan untuk menyapamu lewat senyumku. Inilah
yang selalu kunanti di setiap pagi. Melihatmu di dekat jendela kaca, melakukan
pekerjaanmu sembari membalas senyumku dengan malu – malu.
Kesempatan untuk melihatmu tak
begitu saja berakhir di lobi. Aku selalu mencari kesempatan jika kau memasuki
ruang kerjaku. Di ruang kerjaku memang bukan hanya aku sendiri yang ada disitu.
Baguslah, itu bisa membuat sikap salah tingkahku tidak kentara bila berhadapan
denganmu. Siang hari sebelum istirahat berlangsung, kadang salah seorang
temanku atau aku sendiri memintamu untuk dibuatkan kopi atau teh hangat. Betapa
gembiranya hatiku saat kau keluar masuk ruang kerjaku kala itu. Haha, ada – ada
saja. Terkadang aku berpikir, mimpi tuk mendapatkanmu hanyalah sekedar khayalan
belaka. Buktinya hingga kini aku hanya dapat melihat indahmu dalam pesona
ketampananmu dan tatapan keramah tamahanmu saja. Ya, sudahlah mungkin ini sudah
nasib.
Ada satu hal yang selalu aku
perhatikan darimu. Tampaknya kau adalah pria pekerja keras yang rajin. Aku
perhatikan pekerjaanmu selalu bersih dan rapi. Kau juga
pria yang ramah. Semua orang suka bila dibuatkan minuman olehmu, tak terkecuali
aku.
Selama setahun sudah hariku di
tempat kerja dipenuhi gelora asmara. Hatiku kasmaran. Selalu saja jantungku
berdetak, senyumku mengembang dan mataku seolah berbinar ketika aku melihatmu,
menatapmu, dan tersenyum padamu. Jantungku selalu berdegup saat kau melewati ruang kerjaku. Aku tahu kau selalu
berusaha mengintip diriku yang duduk konsen berhadapan dengan computer. Kadang
tak sengaja aku melihat pipimu merona merah ketika berpapasan denganku. Kau pun
langsung memalingkan wajahmu dengan salah tingkah. Betapa aku sangat senang
akan setiap moment bersamamu. Walau aku tahu kejadiannya selalu begitu. Mungkin
kau malu. Aku pun sebenarnya malu. Aku tahu, kau hanyalah pegawai biasa bila
dibandingkan dengan jabatanku. Seorang gadis dengan jabatan Senior Accountant
di hotel berbintang 5, yang lambat laun menyukaimu. Maka, jadilah aku hanya diam tak berbuat sesuatu.
Rasa putus asa itu aku tunjukan
dengan berusaha menghindari moment – moment pertemuan yang pernah terjadi
sebelum – sebelumnya. Setiap pagi aku berusaha untuk tak melihat kearahmu
ketika berjalan melewati lobi. Namun tetap saja hatiku tak kuasa menahannya.
Selalu saja aku menoleh kearah tempat biasa kau membersihkan jendela. Hatiku
selalu kecewa pada akhirnya kau ternyata tak ada disitu. Saat sedang di ruang
kerja, aku selalu mengintip keluar pintu. Memang aku melihatmu, tapi tak
seperti biasanya, aku tak lagi memergokimu melihat kearahku. Kau hanya lewat
cuek begitu saja. Dan bila salah satu temanku, atau aku yang minta dibuatkan
kopi atau teh, kau selalu meminta teman sesama CS untuk mengantarkan minuman
itu ke ruang kerjaku. Sejak saat itu aku berpikir, ya sudahlah mungkin kau
sudah melupakanku.
Perasaanku yang kacau balau itu
makin menorehkan luka di hati ini. Masih di tahun yang sama di bulan ketiga, aku
dipindahkan ke lain kota. Aku diangkat menjadi Head Accounting di cabang hotel
yang sama namun di kota yang berbeda. Memang aku senang akhirnya prestasiku
dihargai dengan dianugerahi jabatan ini. Namun itu berarti kesempatanku bertemu
denganmu akan benar – benar berakhir sudah.
Hari terakhirku bekerja di hotel
ini dirayakan kecil – kecilan di sore hari, selepas pulang bekerja. Semua
karyawan hadir berkumpul di aula merayakan hari perpisahan denganku. Kau juga
termasuk di dalamnya, bahkan kau turut andil mempersiapkan makanan acara
perpisahan. Hatiku kalut, penuh luka, dan penyesalan. Betapa aku kalut nan
panik merayakan kepergianku yang tak terduga. Betapa hatiku luka dan kecewa
akan menghadapi hari – hari tanpa melihatmu. Betapa aku menyesal karena aku tak
duluan saja ungkapkan perasaanku kepadamu. Tak terbayang ternyata hari ini
adalah hari terakhirku bisa melihatmu. Menatap indahmu walau hanya dari
kejauhan.
Aku berpidato dihadapan para bos,
manager, pimpinan perusahaan dan karyawan – karyawan lainnya. Disitu aku
mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf – staf karyawan yang ada di aula. Aku
tak kuasa menahan tangis, memandangi orang – orang yang selama ini bekerja
bersamaku. Aku tatapi satu persatu teman – teman dekatku, dan para karyawan lain
tak terkecuali dirimu. Saat giliran aku memandangimu, ada sebuah getaran lagi
yang membuat kakiku tak berkutik. Matamu kini benar – benar menatapku beberapa
menit sembari aku sunggingkan senyum kepadamu. Tapi, kau diam tak berkutik sembari
membalas senyumanku dengan terpaksa. Ah, sejujurnya aku kecewa dengan balasan
senyum kakumu itu.
Itulah hari terakhir aku melihatnya
disini. Di tempat aku bekerja selama ini. Dimana hari – hariku penuh warna dan
bunga penghias hati. Tak akan aku lihat lagi wajah tampannya, rambut plontosnya,
tubuh tingginya, tingkah laku yang sopan dan ramahnya, serta sikap salah
tingkahnya yang selalu berhasil menyulutkan kobaran semangatku. Selamat tinggal
lelaki pujaanku. Aku pengagummu. Dan selamanya hanya akan menjadi pengagum
rahasiamu.
Pagi itu aku termenung seorang diri
ketika melangkah memasuki ruang kerjaku. Saat itulah terbelesit kembali
bayangan wajahnya dalam otakku. Tak terasa ada buliran air mata mengalir di
pipi kananku. Segera aku hapus dan bergegas memulai pekerjaanku. Aku buka
komputer dan mulai dengan tugas baruku. Tugas dan tanggung jawab yang lebih
berat di meja kerja di ruang kerja baru.
Monday, October 1, 2012
Akhir Cerita
Aku
duduk membeku di dalam kamarku. Aku teringat kembali saat - saat lalu. Aku
pernah menyukaimu, tepatnya mencintaimu. Mungkin kau tau betapa inginnya diriku
memilikimu. Betapa merananya hatiku menanti saat yang tepat tuk ungkapkan isi
hatiku. Jantungku selalu berdegup kencang kala berhadapan denganmu. Jantungku
selalu tak dapat terkontrol saat kau menatapku seperti itu. Menatap lembut
kearahku. Hingga suatu ketika, keresahan, kegundahan, dan kenestapaan itu
berakhir dengan sebuah tangis bahagia. Kau utarakan rasa cinta terpendammu yang
ternyata memang untukku. Tahukah kau betapa bahagianya aku saat itu, hingga
tak sadar aku menangis dihadapanmu. Kau pun memelukku dengan erat,
kemudaian kita bergandengan tangan melompat bersama berlarian di taman cinta.
Ya, taman itu seolah menjadi saksi hari jadi kita. Kau dan aku bersatu dalam
ikatan sebuah cinta.
Setahun
sudah kita lewati bersama. Kadang ada tawa menggelora dalam canda. Kadang ada
tangis sedih dalam cemburu. Masa - masa itu memang sangat berharga bagiku.
Betapa beruntungnya aku memilki dirimu. Sikapmu yang penyayang dan penyabar
selalu menumbuhkan kerinduan dalam hati. Apalagi sosokmu melambangkan pancaran
wibawa seorang lelaki.
Setelah setahun sudah kita lewati bersama, kini kau mengundangku bertemu di taman cinta. Taman tempat dimana kita biasa sering menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau sembari memandangi segarnya bunga - bunga yang bermekaran. Begitu aku tiba di taman, kau langsung memelukku sembari menangis. Tangisanmu membawa tanda tanya. Aku berusaha menenangkan dirimu dan segera berbicara. Akan tetapi, kau hanya diam membisu sembari menyodorkan sebuah amplop. Aku bertanya apa isinya, namun tetap saja kau diam tak bersua. Aku segera buka isinya, dan membaca coretan didalamnya. Sebuah surat undangan pernikahan. Dimana tampak jelas tertera disitu yang akan menikah tertulis namamu dan nama seorang wanita yang tak pernah aku tahu. Sontak air mata ini menyeruak merobekkan hati. Aku terluka saat itu juga. Aku menangis sejadi - jadinya. Lantas kemudian kau memelukku dengan paksa seraya berkata, "Maafkan aku,, ini demi menjaga amanat Almarhum ayahku.". Aku menangis sesegukan dalam pelukanmu. Semakin erat kau memelukku hingga nafasku terasa sesak. Biarlah saat ini aku ingin berada lama dipelukanmu. Biarlah aku habiskan tangisanku kali ini juga. Karena aku ingin ini adalah merupakan tangisan terakhirku untuk menangis karenamu. Aku balas pelukanmu hingga tak menyadari celana panjangku tertarik sesuatu. Tiba - tiba teriakan seseorang terdengar memekakkan telinga.
"Woi, siapa punya anjing itu? Tolong singkirkan!"
Sontak aku berteriak langsung menyadari celanaku tertarik seekor anjing. Aku berusaha melepaskan gigitan anjing itu hingga akhirnya seorang kru melempakan sandalnya, dan membuat anjing itu lari kabur menjauh dari lokasi.
"Ah, adegannya udah dapet banget, malah akhir cerita hancur gara - gara anjing sialan..!!" gerutu sang sutradara.
Mukaku langsung cemberut nan kecewa.
Setelah setahun sudah kita lewati bersama, kini kau mengundangku bertemu di taman cinta. Taman tempat dimana kita biasa sering menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau sembari memandangi segarnya bunga - bunga yang bermekaran. Begitu aku tiba di taman, kau langsung memelukku sembari menangis. Tangisanmu membawa tanda tanya. Aku berusaha menenangkan dirimu dan segera berbicara. Akan tetapi, kau hanya diam membisu sembari menyodorkan sebuah amplop. Aku bertanya apa isinya, namun tetap saja kau diam tak bersua. Aku segera buka isinya, dan membaca coretan didalamnya. Sebuah surat undangan pernikahan. Dimana tampak jelas tertera disitu yang akan menikah tertulis namamu dan nama seorang wanita yang tak pernah aku tahu. Sontak air mata ini menyeruak merobekkan hati. Aku terluka saat itu juga. Aku menangis sejadi - jadinya. Lantas kemudian kau memelukku dengan paksa seraya berkata, "Maafkan aku,, ini demi menjaga amanat Almarhum ayahku.". Aku menangis sesegukan dalam pelukanmu. Semakin erat kau memelukku hingga nafasku terasa sesak. Biarlah saat ini aku ingin berada lama dipelukanmu. Biarlah aku habiskan tangisanku kali ini juga. Karena aku ingin ini adalah merupakan tangisan terakhirku untuk menangis karenamu. Aku balas pelukanmu hingga tak menyadari celana panjangku tertarik sesuatu. Tiba - tiba teriakan seseorang terdengar memekakkan telinga.
"Woi, siapa punya anjing itu? Tolong singkirkan!"
Sontak aku berteriak langsung menyadari celanaku tertarik seekor anjing. Aku berusaha melepaskan gigitan anjing itu hingga akhirnya seorang kru melempakan sandalnya, dan membuat anjing itu lari kabur menjauh dari lokasi.
"Ah, adegannya udah dapet banget, malah akhir cerita hancur gara - gara anjing sialan..!!" gerutu sang sutradara.
Mukaku langsung cemberut nan kecewa.
Kau Mantan Terindah
Aku tahu ini yang terbaik bagi kita. Aku
tahu keputusan ini bukan inginku dan bukan pula inginmu. Namun, keadaan membuat
semua ini terjadi. Bagiku kau adalah malaikat penghias hatiku, belahan jiwaku,
sebagian hembusan nafasku. Bagiku selama ini kau adalah penghibur relung jiwa
yang sepi, penyemangat hati yang terkadang ingin berhenti mengejar mimpi. Aku
tahu ini bukan salah kita berdua. Aku tahu keadaan ini tak sejalan dengan
harapan kita. Aku yakin kau disana kan bahagia. Menempuh hidup barumu bersama
pria pilihan orang tuamu. Menjelejah dunia baru tanpaku, tanpa bayanganku
disisimu. Sedih memang menyesakkan dada. Bukannya aku tak mau saat kau minta
aku kembali kesisimu. Namun, aku tak mau melukai hati kedua orang tuamu.
Bukannya aku tak mencintaimu lagi. Namun, aku tak mau menjerumuskanmu dalam
duniaku yang penuh luka dan jerat kegelisahan ini. Karena aku bukanlah pria
yang akan memberikan keturunan bagimu kelak. Karena aku hanyalah wanita biasa
yang pernah berusaha menjadi sosok pria idamanmu. Dan karena kau mantan
terindahku yang tak mau hidupnya kuhancuri.
Menggenggam Dunia
Menggenggam dunia..
Akankah aku sampai kesana..
Menggenggammu dalam kepalan tanganku..
Menaklukanmu dalam bentuk semangatku..
Menggenggam dunia..
Ingin rasanya kugapai semua..
Impian yang telah lama kutuliskan..
Keinginan yang telah lama kusimpan..
Menggenggam dunia..
Inginku menggapai semua..
Walau rintangan silih berdatangan..
Walau terhalang oleh berbagai keluhan..
Akan kucoba merangkai angan..
Akan kucoba perjuangkan..
Menggenggam dunia yang kuinginkan..
Menggapai cita hingga ujung kehidupan..
Barisan coretan diatas bukanlah kutipan dari isi buku karangan
penulis fenomenal novel berseri Balada Si Roy, Gol A Gong yang
berjudul "Menggenggam Dunia". Itu merupakan hasil
coretan biasa yang terinspirasi setelah membaca judul buku terbitan PT. Gramedia,
Seri Rumah Dunia ini. Buku ini adalah buku autobiografi, dimana orang atau
tokoh inspirasi yang menuliskan kisah perjalanan hidupnya sendiri. Saya jarang
sekali menemukan jenis bacaan seperti ini, dimana orang yang meyakini kisah
hidupnya dapat menginspirasi orang banyak menuliskan sendiri kisah liku
kehidupannya dalam wujud sebuah buku.
Menggenggam Dunia, menceritakan perjalanan hidup seorang Gol A
Gong, penyandang cacat bertangan satu dari ia kecil hingga sukses meraih
mimpinya menggenggam dunia. Diceritakan bagaimana penulis saat kecil suka
berkhayal menjadi tokoh - tokoh superhero yang pernah ditontonnya dalam sebuah
film - film, ataupun dari buku - buku yang pernah dibacanya. Akibat timbulnya imajinasinya itu menyebabkan terjadilah sebuah kecelakaan
yang membuatnya harus kehilangan tangan kirinya.
Hilangnya satu tangan, tak membuatnya harus kehilangan kesempatan
untuk berkarya. Berkat dorongan kedua orang tua, ia tumbuh menjadi anak yang
pantang menyerah mengejar mimpi - mimpinya. Walau memliki satu tangan, ia
pandai bermain bulu tangkis. Walau berlengan satu impiannya sungguh narsis.
Menjelajah dunia, mengunjungi tempat - tempat tak terduga, berkelana dan
mengembara tak hanya di belahan bumi Indonesia, namun juga di belahan negeri
nan jauh disana. Sembari berkelana tak lupa ia berkarya lewat tulisan
perjalanannya. Dari tulisan - tulisan itulah ia mendapat dana melakukan
perjalanannya melintasi benua. Ia tak hanya menikmati keanekaragaman
pemandangan indah suatu negara, namun ia juga meneliti dan menelaah setiap
keunikan, sisi lain, dan hal - hal baru yang tak pernah dipikirkan oleh seorang
travelling biasa. Ia adalah traveler writer sejati, maka pantaslah saya ancungi
jempol atas lahirnya judul buku karyanya berjudul TEWE. Dari buku
tersebut ia berbagi mengenai teknis - teknis cara menjadi seorang traveler
writer yang menuliskan kisah perjalanan yang tidak biasa.
Buku Menggenggam Dunia ini tak hanya mengisahkan tentang
perjalanannya menjelajah negeri, namun juga berisi bagaimana ia berusaha
membangun sebuah taman baca yang dapat dinikamati oleh anak bangsa. Tujuannya
tak lain adalah membangun budaya kegemaran membaca bagi generasi penerus
bangsa. Maka, dengan kerja keras ia dibantu rekan - rekannya membangun sebuah
Rumah Dunia.
Masih banyak kisah - kisah lain tentang sang penulis yang kiranya
mengetuk hati pembaca yang tak mungkin saya jelaskan secara terperinci.
Intinya, tulisan pengarang setidaknya dapat menginspirasi saya, bahwa
kekurangan seseorang tak dapat menghalangi kemauan besar seseorang menggapai
impiannya. Impian menggenggam dunia yang terwujud dalam
sebuah karya tulisan - tulisan inspiratif.
Selamat Membaca.. :)
Wednesday, September 26, 2012
Kepergian Mereka
Kamar bernuansa biru itu
kini sepi tiada berpenghuni. Kamar mungil itu kini tak lagi ramai seperti hari
biasanya. Di kamar itulah tempat terindah mereka bertiga kala terlelap di malam
hari. Di kamar itulah aku bisa lihat mereka bertiga, anak – anak mungilku tidur
setelah sepanjang hari bermain. Mereka bertiga sudah aku anggap seperti anak
kandungku sendiri. Mereka bertiga belahan jiwaku, penghias hari – hari, temanku
dalam kesendirian, temanku dalam kerinduan. Walau sebenarnya mereka bertiga
bukanlah anak – anak kandungku sendiri, aku tetap menyayangi mereka. Ibu kandung
anak – anak mungilku masih berusia muda. Jadi aku paham mengapa ibu kandung
mereka kadang tak peduli apakah mereka sudah makan, sering pergi tanpa pesan
tetapi tetap kembali jika sudah lapar. Aku memaklumi ibu muda ini. Ibu yang
usianya jauh dibawahku, namun sudah melewati masa – masa kecilnya bersamaku
hingga sebesar ini.
Siang ini mentari terik
sekali. Aku menjadi malas keluar rumah. Jadi inilah yang aku lakukan kini. Duduk
di bibir pintu menghadap kamar mungil mereka, dan mencoba mengenang keberadaan
mereka dalam sebuah handphone. Didalam hanphone yang aku pegang kini terdapat
puluhan potret wajah anak – anak mungilku. Kupandangi satu per satu wajah –
wajah lucu dan imut mereka. Aku begitu menikmati tiap lembar demi lembar aksi
dan tingkah laku mereka yang berhasil aku abadikan. Ada berbagai pose yang
kadang mengundang tawa. Pose saat mereka tanpa sengaja tertidur diatas kasurku,
pose saat mereka berloncatan gembira bermain dengan mainan mereka, hingga pose
sadar kamera mereka lakukan layaknya model – model majalah.
Aku akui kerinduan akan
hadirnya anak – anak mungilku begitu mendalam. Aku akui kini aku hampa tanpa
mereka bertiga. Aku akui kini hatiku terluka menahan tangis. Merindu dalam
kenangan. Menagis dalam diam. Perlahan aku tak dapat menahan tangisku. Air mataku
tumpah ruah hingga pipi ini basah lagi. Aku pegang mataku yang sudah bengkak. Kelopak
mataku sakit. Mungkin warnanya sudah merah muda terlihat. Tangisanku yang
keluar perlahan tak dapat kubendung lagi. Kini aku menangis sesegukan, menahan
sesak luka didada. Terbayang lagi untaian – untaian kenanganku bersama anak –
anak mungilku. Terbayang kembali kisah kepergian mereka yang tak pernah kuduga
dan kuterka.
Subscribe to:
Posts (Atom)
