Tuesday, October 23, 2012

Gadis Penumpang Bus


Aku duduk disitu. Di halte menanti bus yang kutunggu. Kuputar mp3 yang aku taruh disaku. Sembari menunggu, mp3 itu pun berlagu. Sesekali hentakan kaki ini mengikuti irama yang mengalun. Mencoba hilangkan penat yang sampai ke ubun - ubun. Lumayanlah suara musik menghibur walau bibirku masih sedikit manyun. Lelah memang terasa. Menanti bus yang lama sekali tiba. Memang aku tak sendirian disana. Ada ibu - ibu paruh baya duduk dengan terkantuk - kantuk. Kakek - kakek lansia dengan cucunya yang masih belia. Pria berdasi yang berdiri diujung tiang halte seraya memainkan hanphone. Dan aku sendiri, seorang pelajar yang baru pulang dari kuliah duduk dengan muka tertekuk. 

Lagu yang sedari tadi kuputar tiba - tiba menghilang. Lagu milik band Slank yang terakhir kudengar tersendat ditengah jalan. Oh ternyata baterai mp3-ku koma. Alhasil, kini aku aku hanya diam tak bersuara. Tak ada hentakan kaki yang sesekali berdentum. Tak ada nyanyian hati yang ikut melantun. Namun kini, hanya suara - suara bising terdengar. Suara klakson - klakson kendaraan terdengar hingar bingar. Suara - suara knalpot truk - truk besar, mobil - mobil pribadi dan sepeda motor juga ikut meramaikan. Asap yang mengepul tak dapat dipungkiri menjadi penyemarak hiruk pikuk jalanan. Akhirnya polusi tak terhindarkan bahkan terus mengalami peningkatan.

"Wuss..!!" suara pintu bus terbuka. Akhirnya hatiku lega. Kelelahan sehabis kuliah serta menanti bus yang lama sirna juga. Kami yang ada di halte satu per satu memasuki bus kota setelah beberapa orang keluar dari bus. Keadaan di dalam bus sedikit mendinginkan hati. Cuaca panas diluar berubah adem dan nyaman di dalam bus ber-AC ini. Aku pilih tempat duduk paling belakang. Karena hanya disitulah tempat duduk yang tersisa.

Dua puluh menit kemudian bus berhenti pada halte berikutnya. Penumpang yang duduk disebelahku yang kini keluar. Sedikit penumpang yang baru datang. Hanya ada dua orang kulihat. Seorang remaja laki - laki memakai seragam SMA dan seorang gadis. Seketika aku terpana melihat gadis itu. Wajahnya mempesona. Matanya memancarkan cahaya. Hidungnya mancung bak hidung orang timur tengah. Bibirnya seksi seperti bibir Angelina Jolie. Pipinya tirus nan mulus. Tubuhnya tinggi nan langsing. Kulitnya hitam namun eksotik, kencang nan segar. Rambutnya hitam keriting terurai panjang. Pakaiannya sopan menggunakan kemeja dan celana panjang. High heels yang ia kenakan semakin membuat tubuhnya jenjang. Tas selempang terselampir dibahunya. Ia berjalan dengan anggun seraya menyebarkan pandangan berusaha mencari tempat duduk yang tersisa. Ia berjalan menuju kearahku. Tepatnya kearah tempat duduk disebelahku yang kosong. Seketika sekujur tubuhku kaku membeku. Jantungku berdegup tak menentu. Aku tak bergerak. Matanya kini menatapku. Ia tersenyum padaku. Kubalas senyumnya walau aku tahu terasa kaku. Hatiku melayang dibuatnya. Ketar - ketir perut tambunku bergoyang. Keringat seketika mengucur tak terhalang.

Ia tiba di depanku, bersiap mengambil tempat duduk disebelahku. Kini aku dapat dengan jelas melihat wajahnya. Namun ia tidak langsung duduk disebelahku. Ia membungkuk dihadapanku seraya berkata. "Gendut"
Aku terkejut. "Kurang ajar benar gadis ini" pikirku.
"Hi Gendut!"
Lagi - lagi ia mengataiku dengan sebutan itu.
"Cepat bangun!"
Lah, kali ini ia berseru menantangku. Wajahnya berkerut dan menunjukkan amarah yang tak terduga.
Dahiku berkerut. Aku tak mengindahkannya.
"Plak!" ia menampar pipiku yang cubby dengan keras.
"Adoooow..!!!" aku mengaduh dengan lantang.
Pipiku kesakitan, mataku berkunang - kunang. Aku lihat gadis berseragam SMA kini didepanku. Bukan gadis berpenampilan anggun nan eksotik itu. Gadis itu ternyata adik perempuanku. Dengan muka sangar ia berdiri menatapku yang kesakitan.
"Cepat bangun Genduuuut..!!" Ia berseru lagi sembari melemparkan bantal kearah mukaku. Untung saja aku langsung menghindar.
"Dasar kebo..!" Ia akhirnya melenggang pergi keluar dari kamarku.

Monday, October 22, 2012

Beli Sisir

Renna berkaca sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Ia baru saja selesai keramas pagi itu. Seperti biasa rambutnya akan tampak lurus sehabis keramas. Ia pun senang dengan tampilan rambutnya yang kini rapi. Ia kemudian kenakan kemeja panjang dan celana jins. Pakaian itu selalu menjadi kostum sehari - harinya untuk bekerja. Beruntung di kantornya tak mewajibkan kariyawannya untuk mengenakan rok, maka ia bisa dengan bebas menggunakan celana jins yang selalu menjadi andalannya dalam berpakaian.

Usai rutinitas berpakaian, ia memperhatikan rambutnya di cermin. Rambut yang masih basah ia sisir sebenatar. Merasa sudah rapi, ia membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Ia menuju meja makan dan siap menyambar sepiring nasi goreng buatan Emaknya yang telah bertenger cantik diatas meja. Kunyahan demi kunyahan ia nikmati santapan hingga akhirnya sepiring nasi goreng tersebut habis tanpa sisa.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. "Assalamualaikum..!!" ia mengucapkan salam pada Emaknya yang sedang bersantai di teras depan. Ia pun melenggang pergi bersama vespa abu - abu yang biasa ia kenakan sehari - hari.

Tiba di kantor, ia dijegat oleh sang Supervisor atasannya.
"Renna, tolong antarkan paketan ini ke kantor pos ya!" 
"Siap Bu..!" 
Ia kemudian kembali ke parkiran. Ia hendak memakai helm kemudian tak sengaja berkaca pada spion vespanya. Tampak disana ia menyadari rambutnya kini sudah kering tak beraturan. Namun ia cuek langsung kenakan helm lalu melaju pergi kembali bersama vespanya.

Sial sekali hari itu kantor pos tampak ramai. Ia taruh helm diatas vespa, kemudian berjalan masuk seraya membawa satu kardus paketan berisi dokumen. Antrian di dalam cukup panjang. Untung saja masih ada tempat duduk kosong yang bisa ia duduki. Sembari menunggu ia mengambil headset dan handphone, memutar lagu kesukaannya.

Sekitar tiga puluh menit berlalu. Giliran nomor antriannya dipanggil kini. Ia pun berjalan ke kasir depan.
"Silahkan ditimbang dulu, Mbak.!" perintah seorang Bapak dari balik meja kasir itu. Ia menaruh paketan pada timbangan tersebut. Pak kasir kemudian melirik angka pada timbangan tersebut, kemudian matanya tertuju pada layar komputer.
"Tiga kilo ya Mbak, dikirim kemana?" tanyanya.
"Aceh Pak! Ini alamatnya.." ia memindahkan paketan itu dan menunjukkan alamat tujuan yang telah tertulis dan tertempel pada kardus bagian depan.
"Baik. Isinya apa?" lanjutnya kemudian sembari mengetik di komputer.
"Dokumen, Pak." jawabnya.
"Wah, jauh sekali kirimnya." komentar si Bapak sambil masih asyik memasukkan data di komputer.
"Hehe, ia Pak, cabang kantor jauh."
"Biayanya seratus tiga puluh sembilan ribu ya." kata si Bapak kemudian seraya menyodorkan invoice padanya. Reena mengambil uang dari kantong celana jins kemudian ia berikan pada si Pak kasir.
"Ini kembaliannya. Terima kasih ya." Pak kasir memberi uang kembalian disertai senyum manis.
"Ya, terima kasih." sahutnya.
Reena hendak melangkah pergi, namun tertahan oleh ucapan si Bapak Kasir.
"Mbak, nanti pulang dari sini beli sisir ya." kata si Bapak sambil tersenyum nyegir. Renna pun tersenyum nyengir kemudian bergegas pergi dari situ.
"Sialan tuh Pak pos.!" batinnya dalam hati.

Saturday, October 20, 2012

Dia


Dia duduk termenung di teras balkon rumah. Mukanya kusut, matanya sayup, rambutnya terurai acak - acakan. Dia duduk di lantai seraya menekuk dan mendekap kedua kakinya. Sesekali dia menatap langit - langit keluar jendela sembari mengusap sudut - sudut matanya yang basah. Lama dia termenung dalam kesendirian. Bibirnya seolah tertahan ingin mengeluarkan suara. Namun semua itu dia tahan. Dia tak mau kalau sampai - sampai seseorang di rumahnya tau jika kini dia sedang menangis.

Lama dia masih terdiam disana. Mukanya masih saja tertekuk. Air matanya mengalir menganak sungai sampai - sampai mengenai ujung - ujung lengan bajunya. Pandangannya masih melanglang buana tanpa arah. Hidungnya mulai ikut basah. Matanya menjadi merah dan bengkak. Dia masih saja membisu. Bergolak sendiri menahan tangis dan amarah yang menyesakkan hati.

Aku tau dia sedih. Aku tau ia sedang kehilangan. Ada sedikit penyesalan dan kekesalan tergurat jelas dalam pancaran wajahnya. Entah apa yang seharusnya aku lakukan untuk menghibur dirinya. Aku hanya diam berdiri bersandar pada pintu dekat balkon sambil memperhatikan dirinya. Dia hanya menatapku tanpa senyum lalu kembali melanjutkan lamunannya.

Bermenit - menit aku diam disana. Aku mencolek lengannya sesekali berusaha menggodanya. Itu ku lakukan agar ia berbicara padaku dan rasa sedihnya berkurang. Tapi, dia tetap saja acuh tak acuh dan langsung bergeser sedikit duduk menjauh dariku. Berulang kali aku coba menghiburnya hingga pada akhirnya kesabaranku sirna. Aku memutuskan beranjak pergi dari situ.

Ketika hendak melangkah pergi, Ibu datang menghampiri kami. Ia menatap ibu dengan tatapan memelas.
"Sudahlah sayang. Ini untukmu.!" kata Ibu sembari menyodorkan boneka angry bird baru.
"Huaaaaaaaa!! Gak mauuuu!! Huaaaaaaaaaaaa...!! tangisnya meledak.
"Adik gak mau yang ini...!!"  teriaknya kemudian seraya melempar boneka angry bird ditangan Ibu lalu duduk diatas kursi. Dia menangis lagi sembari memeluk boneka hello kitty yang kepalanya putus. Boneka hello kita yang rusak akibat ulahku. Aku hanya mesem - mesem dan nyegir, lalu kabur dari situ. 

Thursday, October 18, 2012

Suara dari Balik Pagar

Pagi itu aku biasa lari pagi. Biasanya aku lari - lari menuju taman dekat rumah. Tetapi kali ini aku ingin mencoba menelusuri jalan baru. Maka begitu aku lihat gang perumahan elok nan megah, aku pun berlari menuju kesitu. Rata - rata perumahan disini besar - besar dan benar - benar tampak megah. "Wah, betapa nikmatnya jika aku pemilik dari salah satu rumah di kawasan ini." lamunku dalam hati.

Lima belas menit setelah merasa lelah berlari, aku berhenti sejenak di salah satu depan rumah megah. Dinding pagarnya bertembokkan marmer cantik nan berkilauan. Rumah ini terdiri dari dua tingkat bergaya modern bercat hitam putih. Sembari beristirahat aku terkagum – kagum memandangi rumah ini.

"Praaaaaaaang..!!" Tiba - tiba suara pecahan piring terdengar keras. Aku mencari sumber suara. Sesaat sunyi seketika. Aku pun acuh lalu berniat untuk berlari lagi. Baru saja kakiku akan melangkah, tiba - tiba samar terdengar suara minta tolong. 
"Tolooong..!" suara itu terdengar lirih diiringi tangisan sendu..
"Praaaaaaaanng.. !! Buk...!!" suara itu kini makin terdengar jelas. Aku dengar lagi dan berjalan perlahan menuju arah sumber suara. Aku dekatkan telinga di dinding tembok pagar rumah.
"Dasar wanita jalang!! Beraninya kau menasehatiku, hah?!" seruan suara itu terdengar tepat dari balik gerbang ini.
"Jangan..!! Huaaaaaah!!" suara seorang wanita terdengar lebih kencang.
Suasana pagi itu begitu sepi. Mungkin tak ada yang tahu suara kegaduhan yang kudengar karena orang - orang di sekitar perumahan ini tak pernah saling bertegur sapa. Mereka terkesan cuek bila berpapasan atau bertemu di jalan. Individualisme sungguh terasa di perumahan mewah ini.

"Gedubraaaaaak..!!!" suara dentuman terdengar begitu keras. Aku beranikan diri mengintip dari sela - sela bilik pintu pagar. Dari sana aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di teras rumah itu. Seorang laki - laki bertubuh kekar tampak nanar menatap seorang wanita yang kini terkujur lemah di lantai teras. Tubuh wanita itu penuh luka, berdarah - darah. Sebuah meja bundar terbelah jatuh tepat di sebelah wanita tak berdaya itu. Sepertinya wanita itu tak bisa berbuat apa - apa. Ia masih bernafas, namun lemah karena banyak mengeluarkan darah. Tak berselang berapa lama, laki - laki bertubuh besar itu meminum alkohol yang sedari tadi ia pegang. Matanya merah memancarkan amarah luar biasa. Ia menikmati tegukan demi tegukan alkohol sembari menatap wanita dihadapannya.
"Makanya, ini akibatnya jika kau coba mengguruiku..!" Ia berkata sembari tersenyum sinis pada si wanita.

"Deg." jantungku berdetak melihat peristiwa ini. Kaki terasa kaku untuk melangkah. Cukup. Cukup sudah yang aku lihat. Mungkin setelah ini aku harus bergegas pergi lapor ke polisi atau pergi tanpa pura - pura tak tahu apa yang telah terjadi. Masih dengan pikiran kacau aku bersiap melangkah berlari. Saat hendak berlari itulah aku terkejut setengah mati.
"Hey..! Siapa disana?" suaranya lantang menakutiku. Aku berlari ketakutan. Berusaha berlari dengan kencang. Sempat aku menoleh sejenak. Saat itu kulihat laki - laki itu mengejarku sembari membawa sebuah parang kayu. Kukerahkan seluruh tenaga, menghindar pergi dari kejaran laki - laki itu. 

Aku berbelok meliuk - liuk melewati setiap gerbang rumah - rumah besar disana. Anehnya, tak ada satu orang pun tampak keluar dari rumah melihat aksi kejar - kejaran pagi ini. Ah, betapa tak pekanya orang - orang disekitar sini. Padahal saat ini aku butuh pertolongan. Aku berusaha lari sekencang - kencangnya tanpa peduli bahwa nafasku sebenarnya sudah tersenggal - senggal. Lelaki itu lebih cepat berlari dari dugaanku. Jaraknya denganku semakin dekat. Aku tak kuat lagi. Telapak kaki terasa perih. Lutut terkilir sakit sekali. Seketika aku terjatuh terlentang di tepi jalan. Aku dengar langkah kaki mendekati tubuhku. Aku tak dapat bernafas. Aku lelah berlari. Dan kini ketakutanku tak terkendali. Laki - laki itu membalik paksa tubuhku yang terlentang. Aku berusaha bangkit dan terduduk lemas. Lelaki itu tersenyum seringai kepadaku. Ia bersiap menghantamku dengan parang kayunya.
"Jangaan..!" seruan dari mulutku tampak parau.
"Saya mohon, Pak!" kataku memelas.
"Mohon apa kamu, Erwin?!" 
Lha, aku heran. Kenapa dia tahu namaku?
"Bukan apa - apa." sahutku kemudian.
Ia lalu menjatuhkan parangnya disebelahku dan tiba - tiba menjewer telingaku dengan keras.
"Aoooooo!!" aku berteriak kesakitan dan mendapati diriku kini berada di ruangan kelas. Sekejap aku melihat Pak Yusuf, guru Sejarahku berada disebelahku seraya menjewer telingaku yang kini menjadi merah. Gemuruh tawa ramai sontak terdengar di seluruh penjuru kelas.
"Ayo berdiri di depan sebagai hukuman.!" perintah Pak Yusuf padaku.
Masih dengan mata mengantuk aku berjalan lunglai menuju ke depan kelas. Satu persatu kulihat wajah - wajah senang teman - temanku berbisik - bisik sembari sesekali menatapku cekikikan. 

Tulisan dalam Gelap


Sore hari tiba. Saatnya menghentikan aktifitas kantor yang menyiksa. Seperti biasa, aku selalu pulang dengan menaiki Sarbagita. Akan tetapi, ada yang berbeda untuk hari ini. Aku diajak oleh beberapa teman kantor pergi sejenak ke mall. Ya, hitung - hitung refreshing sejenak melepas penat, tak ada salahnya pulang ke rumah lebih lambat. Maka, untuk menuju mall aku berboncengan sepeda motor dengan salah seorang temanku. Tiba di mall, kami jalan menyusuri butik - butik pakaian, mencoba - coba pakaian yang mungkin cocok sehingga akhirnya aku temukan pakaian yang cocok dan pas untukku. Niat untuk menghemat tak belanja pun sirna dalam sekejap. Godaan iman akan penampilan pakaian bagus pun tak terelakan. Akhirnya, dengan perasaan berat hati aku ambil kartu ATM dan menuju meja kasir. Ya sudah, aku pun pulang tanpa tangan hampa.

Di luar mall, tampak langit berubah gelap. Pukul setengah tujuh, masih ada secerah sinar orange mewarnai langit, pertanda sang raja siang segera siap bersembunyi ke peraduannya.
"Masih adakah Sarbagita yang lewat?" tanya salah seorang temanku kala berjalan keluar dari pintu mall.
"Masih. Tenang saja." kataku santai.
"Ok. Kita pulang dulu ya..!" teman - temanku berpamitan lalu pergi berjalan menuju parkiran. Sedangkan aku berjalan berlawanan arah menuju halte bus yang di depan mall.

Sesamapainya di halte aku langsung duduk sembari hidupkan mp3. Disana telah ada seorang wanita yang mungkin sebaya denganku. Kami duduk di bangku halte yang sama dalam diam sibuk dengan aktifitas masing - masing.

Setengah jam berlalu. Aku masih duduk sambil masih mendengarkan lagu. Sesekali aku tengak - tengok kearah jalan berharap menemukan sosok si bus biru. Namun, Sarbagita tak kunjung tampak dari kejauhan. Hanya ada satu atau dua kendaraan yang melintas. Aku kembali bersabar menunggu masih ditemani alunan musik - musik korea kesukaanku.

Halte kini penuh. Ada seorang wanita yang daritadi duduk sebelum aku datang. Ada seorang bapak - bapak bersama tiga anak - anak kecil yang kemudian datang. Dan ada lagi dua orang bule sepasang laki - laki dan wanita membawa ransel besar. Beberapa orang ini saja sudah memenuhi halte bus. Apalagi bila ada tambahan orang lagi yang datang? Pikirku dalam hati.

Sejam berlalu. Hatiku makin resah tak menentu. Suasana malam kian terasa. Langit sudah tampak sangat gelap, tiupan semilir angin menembus kulit membuatku sedikit menggigil. Akan tetapi tetap saja si biru tak kunjung menghampiri. Akhirnya aku bertanya pada seorang wanita yang sendirian sedaritadi.
"Mbak, dari jam berapa menunggu disini?"
Waduh, saya dari satu setengah jam lalu?" jawabnya.
Hah, lama sekali Mbak?" tiba - tiba  Bapak - bapak itu menimpali.
Kami pun bingung satu sama lain. Kami tak tahu harus berbuat apa. Kami tetap duduk menanti. Sepasang bule akhirnya pergi tinggalkan halte. Bosan mendengarkan lagu, aku berniat memainkan handphone. Saat akan mengambil hanphone di dalam tas yang aku selempangkan di sebelah kanan lenganku itulah aku melihat selembar kertas putih tertempel di dinding halte. Tulisannya tak tampak terlihat jelas, apalagi di dalam ruang halte tanpa cahaya. Tulisan tangan berbentuk cakaran ayam itu, membuatku penasaran ingin membacanya. Aku harus memincingkan mataku hingga benar – benar dapat membaca tulisan berukuran kecil itu.
"Maaf, hari ini Sarbagita tidak melewati Halte ini dikarenakan ada gelaran Kuta Festival, akses jalan menuju jalan ini ditutup."
Kaki langsung lemas. Aku memberitahu semua yang masih di halte. Aku dan seorang wanita disebelahku memutuskan jalan bersama menuju halte berikutnya di persimpangan nan jauh disana. Gempor sudah kaki ini. 

Wednesday, October 17, 2012

Penantian Panjang

Aku akui aku jatuh hati padamu. Sejak pertama aku lihat dirimu di mall itu. Rasanya tak dapat aku bayangkan betapa inginnya aku segera bertemu kembali denganmu. Melihatmu di tempat yang sama, karena aku tahu kau masih selalu disitu. Jantungku selalu berdegup ketika melewatimu. Maka, aku hanya tersenyum memandangimu walau ku tahu kau tak pernah menyadarinya. Semakin hari rasa itu makin mengembang. Melambung ke puncak kasmaran. Dan selalu berakhir pada kerinduan.

Hasrat dan keinginanku memang tak tertahan. Niat tuk segera menghampirimu pasti akan segera kuwujudkan. Namun untuk saat ini tampaknya itu mustahil. Aku belum punya keberanian. Bukan, bukannya aku tak punya nyali. Hanya saja aku belum siap. Aku masih ingin menata hati dan memantapkan diri. Masih ada hal - hal yang harus ku persiapkan hingga akhir bulan ini. Dan pasti kuyakini akhir bulan ini janji itu terealisasi. Tunggulah aku kasih. Ups, tak sepantasnya aku berkata begitu. Padahal kan aku belum mengenalmu. Tapi, tak apalah,. Anggaplah kata sayang yang masih tersimpan di hati itu sebagai penghibur diri yang semakin tersiksa dari hari ke hari.

Seminggu lagi akhir bulan. Ya, waktuku hampir dekat mematahkan penantianku. Waktu seminggu akan terasa cepat bila aku terus bersabar. Akan tetapi, ternyata sabar dalam penantian tak semudah yang dibayangkan. Ragaku dan hatiku kaku begitu aku melihatmu lagi. Kali ini aku tak dapat tersenyum lagi melihatmu. Aku terduduk lemas menikmati indahmu dari balik jendela bus. Seperti biasa, kau lagi - lagi tak pernah pedulikan aku. Rasa putus asa sempat menghasut patahkan semangat penantian panjangku. Tapi, akhirnya aku menggeleng. Aku tak boleh putus asa begini. Masih ada tujuh hari lagi sampai saat itu tiba pasti penantian itu kan berakhir. Aku menoleh ke mall itu lagi. Tersenyum sendiri sembari bergumam dalam hati. "Tunggulah dan tetaplah disana sayang."

Akhirnya, seminggu yang terasa panjang dan menyiksa diri itu berakhir kini. Sepulang dari kantor aku bergegas pergi ke mall itu. Tempat dimana aku selalu melihatmu. Tempat dimana rasa inginku menghampirimu selalu menjadi angan - angan di hati. Tidak, kini bukan angan - angan lagi. Sore ini semua impianku kan kuhampiri.

Detik - detik memasuki mall itu semakin menambah semangat diri. Aku melangkah dengan senyum unjuk gigi, senang setengah mati. Ini pertama kalinya aku akan melihatmu dari dekat. Bersiap mengenal sosokmu lebih dekat. Dan ketika kau teah di depan mata kini, rasa tersiksa yang lama melekat di hati hilang dalam sekejap. Hidungku begitu menikmati aroma wangi khas tubuhmu yang menggoda. Kau begitu besar dan padat. Mulutku yang tak sabaran akhirnya pelan - pelan menggodamu dalam kunyahan lembut yang kuciptakan. Oh, rasamu begitu nikmat. Kunyahan pertamaku itu sudah berhasil menenangkan alunan musik dangdut yang sempat berdendang selepas pulang dari kantor tadi. Aku mengunyahmu perlahan hingga tak tersisa di meja makan. Ku seruput segelas soft drink seketika setelah melahap habis dirimu. Kenyang sudah perut ini. Terobati sudah hasrat tuk mencicipimu. Berakhir sudah penantian panjangku. Mungkin kita akan bertemu lagi di bulan berikutnya. Karena menikmatimu setiap hari sungguh mustahil untuk karyawan dengan gaji pas -pasan. Tunggu aku ya "Burger King". Tunggu hingga gajiku cair di bulan depan. 

Akhir Sebuah Pertarungan


Hari raya Idul Fitri kala itu adalah hari yang paling kutunggu - tunggu. Hari dimana kesempatanku bertemu orang tuamu, mempererat jalinan silaturrahmi yang telah kita rajut selama beberapa tahun belakangan ini. Jalinan kisah kita semenjak kita bertemu di masa SMA. Betapa lucu dan senangnya bila kuingat kenangan - kenangan SMA kita dulu. Bagaikan sepasang sejoli Galih dan Ratna, kita menikmati masa - masa itu penuh romansa. Sebenarnya rasa minder pernah membelenggu dihati. Waktu itu, kau primadona yang selalu menjadi buah bibir anak - anak lelaki. Wajahmu cantik nan rupawan. Kau terkenal baik , ramah dan pintar. Dan nampaknya kau tak pernah menorehkan tinta merah pada catatan guru BP. 

Rasa takut dan tak percaya diri mengahantui kala aku dan kawan - kawan lelaki sempat membuat kesepakatan yang berkaitan denganmu. Maaf, kala itu demi arti sebuah pertemanan aku terpaksa setuju dengan kesepakatan itu. Sebuah kesepakatan yang bisa dibilang sebuah taruhan. Taruhan mendekati dan mendapatkan cintamu yang terkenal tak pernah terlihat bergandengan dengan lelaki manapun. Jika salah satu dari kami berhasil, jadilah kami yang kalah taruhan tak diperbolehkan mandi dalam seminggu. Sedangkan yang menang berhak ditraktir selama seminggu itu juga. Maka, jadilah aku yang ikut - ikutan terpaksa ikut pertarungan. Selain karena memang menyukai dirimu, sesungguhnya imbalan traktiran sangat menggiurkan. Maklumlah, aku besar dan terlahir dari keluarga serba kekurangan. Untuk naik angkot dan makan seharian pun selalu pas - pasan bahkan lebih banyak kekurangan. Hehe.. Tidak pantaslah jika aku dibandingkan dengamu. Kau terlahir dan besar dari keluarga serba berkecukupan. Setiap hari kau diantar jemput dengan mobil pribadi. Pakaianmu rapi. Parasmu cantik nan penuh keanggunan.

Semua teman telah berusaha mendekatimu, namun mereka tak pernah datang membawa berita menggembirakan. Tibalah saat giliranku yang maju ke arena pertarungan. Walau hati sempat ciut dan deg - degan, imbalan traktiran lebih kuat terngiang - ngiang. Jadilah aku mendekatimu dengan penuh kepolosan. Aku pura - pura minta bantuan. Minta bantuan memecahkan soal pelajaran. Hingga lambat laun saling berkenalan, kita menjadi sering belajar barengan. Rasa itu makin timbul tak terkirakan. Kala itu, aku tak kuasa menahan gejolak rasa yang berkoar - koar. Pada akhirnya, aku putuskan untuk membuat sebuah pengakuan. Deklarasi rasa suka yang telah aku pendam. Kau tersenyum kepadaku usai aku nyatakan. Membuat jantung berdentum tak karuan. Kemudian kau dengan santai berkata bahwa kau juga menyukaiku. Bagimu, aku terlihat apa adanya. Anak lelaki sederhana nan polos penuh kejujuran. Mendengar kau sebutkan kata "kejujuran", semakin hati ini merasa bersalah dan penuh penyesalan. Akhirnya, aku ceritakan semua tentang taruhan, dan juga rasa terhadapmu adalah kebenaran. Begitu hal itu kuucapkan, kukira kau akan marah. Akan tetapi, kau malah tertawa memandangiku yang penuh penyesalan. Kau berkata bahwa kau sudah tahu tentang apa yang aku dan kawan- kawan rencanakan. Kau sengaja diam membiarkan hingga pada akhirnya semua terbongkar dari mulutku yang saat itu pasang wajah kebingungan. Fuiih, betapa lega hati ini, karena permintaan maafku kau kabulkan. Cintaku pun kau sambut dengan kehangatan. Duniaku kala itu benar - benar kasmaran.

Berakhirnya pertarungan itu pun menambahkan keuntungan. Selain benar - benar mendapat cinta sungguhan, imbalan traktiran seminggu pun siap ada digenggaman. Kawan - kawan pada kebingungan. Bukan kebingungan akan mentraktir dan tak mandi selama seminggu, namun tentunya kebingungan tak percaya akan diriku yang paling diragukan.

Haha. Aku selalu mengenang masa - masa itu dengan kegembiraan. Awal jalinan kita terjalin akibat sebuah taruhan. Tak kusangka hingga kini dua tahun setelah lulus sekolah jalinan itu masih tetap berlanjut menjadi aneka rangkaian cerita. Kau kini masih mengenyam pendidikan di kampus. Masih tetap cantik dengan wajah tirus. Serta rambut panjang yang selalu terurus. Sedangkan aku telah bekerja, terpaksa mengubur mimpi kuliah yang telah pupus. Masih dengan tubuh kurus. Rambut ini pun makin gondrong tak terurus. Walau demikian, kita selalu menjaga jalinan itu. Cintaku makin melambung mengikuti perjalanan waktu. Hingga akhirnya pada hari yang Fitri itu, aku beranikan diri memantapkan cintaku. Berangkat menuju rumahmu, berniat berkenalan jauh dengan kedua orang tuamu. Bukan, sebenarnya bukan untuk meminangmu. Untuk hal itu aku belum siap, baik secara moril maupun materiil. Kau tahu kan pekerjaanku hanyalah sales biasa. Yang berkeliling mengantarkan pesanan di gerai - gerai supermarket. Kau tahu gajiku tak seberapa. Maka, belumlah kuputuskan ke tingkat itu untuk meminangmu.

Segala persiapan matang telah aku siapkan. Mulai dari pakaian hingga kendaraan. Baju koko baru telah aku beli. Baju warna putih itu aku beli hasil dari membobol tabungan. Celana panjang hitam koleksi lama akhirnya menjadi pasangan baju koko putih baruku. Dengan semangat dan senyum sumrigah aku siap berangkat. Aku keluar berpamitan kepada kedua orang tua dan keluar menuju pekarangan. Disitu sudah menanti jagoan merah beroda dua yang sengaja aku pinjam dari pamanku. Maklumlah, gajiku belum sanggup membeli motor seperti ini. Alhasil, demi sebuah pencitraan yang baik dimata calon mertua, hehe, terpaksa motor itu kupinjam. Walau hanya motor butut ceketer dengan bunyi yang tak bisa dibilang merdu kala dihidupkan.

Perjalanan Garut menuju Jakarta sungguh menambah tantangan. Si jagoan merah butut menemaniku dalam perjalanan. Meski keringat bercucuran, debu dan angin menerpa berterbangan, tapi hati ini selalu dirundung kerinduan. Semangat serta senyum mengalahkan semua rintangan. Perjalanan Garut - Jakarta tak terasa walau jalan penuh kemacetan. Tepat di hari raya itu aku benar - benar datang ke kampung halamanmu. Datang membawa cinta dalam penuh harapan. 

Perasaan deg - degan makin menciut ke permukaan. Badan ini penuh keringat. Wajah ini penuh rasa cemas. Gemetar kakiku ketika tiba di depan pintu rumahmu. Kau menyuruhku duduk di sofa. Aku pun duduk dalam kecemasan. Ini pertama kalinya aku akan berkenalan resmi dengan kedua orang tuamu. Aku bertanya kepadamu dimana orang tuamu, karena kini hatiku semakin cemas. Kau berkata, orang tuamu di dalam. Oh, aku makin penasaran dan gemetar tak karuan. Sementara itu, kau hanya diam tertunduk tanpa menatapku. Selang tak sampai lima menit kemudian, kau tiba - tiba menangis tersedu - sedu. Menangis dihadapanku dengan muka penyesalan.
"Maafin aku ya?." katamu sambil menangis sesegukan.
"Iya, lah ini kan lebaran. Udah pasti kita saling memaafkan kok." kataku mengiyakan
"Pokoknya maafin aku Jang, " lagi - lagi kau berkata sembari menangis. Tangismu semakin deras membasahi kedua pipi lembutmu.
"Kenapa kok sampai nangis begini Ma?" tanyaku heran.
Kau pun mencium tanganku sambil terus berurai air mata. Aku elus kepalamu yang kini terbalut kerudung.
"Sudahlah, jangan berlebihan seperti ini." kataku menenangkan.
"Maaf, kita harus berpisah. Orang tuaku menjodohkanku dengan laki - laki pilihan mereka." katamu terbata - bata seraya menahan tangis.
"Deg!" jantungku remuk bagai tertancap sebuah kapak besar. Namun aku tetap bertahan, badanku tak goyah, tangisku tak tumpah. Aku hanya diam menanggapi.
"Bagaimana ini?" Kau bertanya seraya menatapku.
Aku diam lagi.
"Haruskah aku ikut pergi bersamamu? Bawa aku pergi..!" seruan kecil suaramu seolah menunjukkan bahwa kau ingin memberontak. Tangisanmu makin menjadi. Air matamu keluar hingga tanganku ikut basah. 
"Jangan. Kasihan orang tuamu, Ma. Kamu tahu aku belum siap materi jika kita membina rumah tangga. Jadi, patuhilah mereka."
Kau diam dalam tangis. 
Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya perasaanku sangatlah kecewa. Hatiku terkoyak hingga membuat ragaku lemas. Tak sampai sejam aku berada disitu. Duduk memandangimu di rumah kedua orang tuamu yang mewah. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
"Imas, maafin aku jika selama ini pernah menyakitimu. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Semoga hidup Imas bahagia ya. Salam juga buat kedua orang tuamu. Maaf aku tak bisa lama - lama dan bertemu dengan mereka." 
Aku bersalaman denganmu dan bergegas berbalik arah keluar dari rumahmu.
"Jajang, tak bolehkah kau bawa aku pergi?" pintamu lagi masih dalam tangisan.
Aku hanya menggeleng dan pergi sembari ucapkan salam.

Keluar dari rumahmu, aku langsung menghidupkan si jagoan merah butut dan mengenakan helm. Aku gas motor itu pergi melenggang tinggalkan rumahmu. Hatiku sakit nan kecewa luar biasa. Pikiranku kacau nan kalut. Kepala bagai tertimpa bom atom yang berjejalan. Sakit hati memicu tangis hati. Tangis hati yang tertahan dari tadi akhirnya kini tumpah ruah. Air mata mengalir deras mengucur membasahi pipi, berlanjut hingga terhapus terbawa angin kala dalam perjalananku menuju rumah. Itulah pertama kalinya aku menagis karena seorang gadis. Selamat tinggal Imas.. Selamat tinggal cinta pertamaku..

Kugapai hatimu karena sebuah taruhan..
Kugapai cintamu meski sempat ada penyesalan..
Memepermainkanmu memasuki pertarungan..
Namun kau tetap menyambutku dalam keceriaan..

Kau gadis pertamaku..
Penghias hati disela – sela hidupku..
Kau cinta pertamaku..
Penyemangat diri hidup yang semu..

Jalinan cinta terwujud dalam sebuah cerita..
Jalinan cinta mengalun bagai lirik dan irama..
Meski kau dan aku berbeda..
Cinta tetaplah sama..

Namun, cinta itu berubah menjadi mimpi..
Ketika kau tak sanggup lagi..
Demi sebuah bakti..
Kau harus ku relakan pergi..

Tak ku sangka cinta kita tak abadi..
Tak ku sangka alunan itu tak terdengar lagi..
Cinta kita berlari pergi..
Mengiris pedih bagai digergaji..

Inilah akhir sebuah pertarungan..
Pertarunganku berakhir dalam kesedihan..
Menutup cerita dalam kenangan..
Menyisakan luka yang tak terlupakan..