Sunday, October 28, 2012

Renatta

Malam ini Imam dirundung rasa gelisah. Pikirannya kacau dan tak tenang. Mukanya tampak sendu. Ia hanya duduk diam di depan televisi. Matanya itu tak tertuju pada layar televisi, namun ia justru memandangi bingkai foto digenggaman tangannya. Matanya menerawang tak menentu dalam diam menatap suasana persahabatan yang terbingkai  disana. Sebuah potret dirinya dan Renatta, sahabat karibnya sedang tersenyum bahagia. Potret kebahagian itu tak lantas membuat wajah sendunya berubah sumrigah. Ia masih berpikir dan merasa putus asa. Pose kebahagian itu diambil oleh ayahnya enam bulan lalu. Usia persahabatan  mereka memang terbilang cukup baru. Tapi, bagi Imam, Renatta adalah penyemangat hidupnya. Berkat kehadiran Renatta, hari - hari Imam semakin berwarna. Sepulang dari bekerja, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Renatta. Imam selalu bercerita mengenai keluh kesah dan cerita hidupnya yang cukup rumit. Imam menceritakan betapa capeknya disuruh - suruh  oleh atasannya, cerita tentang seorang gadis yang menarik perhatiannya di tempat ia bekerja, dan betapa kesepian dirinya setiap melewati malam minggu. Imam tau Renatta mungkin bosan terhadap liku kisah hidupnya yang begitu - begitu saja. Namun, Imam sangat menyukai Renatta, karena Renatta tak pernah sekalipun mengeluh bosan mendengar ceritanya. Maka, ketika minggu lalu ayah Imam mengatakan bahwa dirinya harus siap kehilangan Renatta, Imam sungguh sangat kecewa. Ayahnya tak mau mendengarkannya. Negosiasi Imam untuk tetap bisa bertemu dengan Renatta tak dihiraukan oleh ayahnya. Alhasil, selama seminggu belakangan ini, Imam tak pernah absen bertemu dengan Renatta. Imam berusaha menunjukkan wajah sumrigah seperti biasanya dihadapan Renatta. Ia tidak tega jika sahabat karibnya itu tau kalau ia sedang bersedih.

"Allahu Akbar..! Allahu Akbar.!" suara azan dari Masjid membangunkan Imam dari tidurnya. Ia tak menyadari bahwa ia tertidur diatas sofa di ruang televisi. Ibunya yang ketika itu berjalan melewati ruang televisi, heran melihat anak lelakinya berada disitu. Imam menguap lebar dan tiba - tiba merangkul Ibunya. "Bu, tolong rayu ayah ya.!" rengeknya manja.
"Aduh, anak Ibu." Ibunya tersenyum geli seraya melepas pelukan paksa dari Imam.
"Ayolah Bu...!" rengek Imam lagi.
"Udah sana, siap - siap kita sholat." kata Ibunya seraya bergegas pergi tinggalkan Imam yang kini bersedih lagi.

"Allohu akbar, Allohu akbar, Laa ilaaha illalloh. Allohu akbar, Allohu akbar. Allohu akbar walillaahil ahmdu" 
Setelah sholat subuh berlangsung, suara gema takbir hari raya terdengar dari kejauhan. Ayah, Ibu, Imam dan seorang adik laki - lakinya telah siap dengan atribut pakaian sholat mereka. Bersama - sama mereka keluar dari rumah menuju masjid untuk melangsungkan sholat Ied. 

Di perjalanan pulang dari sholat Ied, mereka sekeluarga bersalam - salaman dengan sanak saudara dan para tetangga dekat mereka. Hingar bingar suasana keramaian hari raya makin terasa diiringi gema takbir yang masih mengalun dari arah Masjid. Imam tak mau ketinggalan moment salam - salaman itu. Namun, ia sepertinya harus buru - buru. Ia harus pergi menemui Renatta. 

Imam telah sampai lebih dulu di rumahnya. Di pekarangan rumah ia melihat Renatta memandang kearahnya. Ia hampiri Renatta dengan muka sedih kali ini. Imam sudah menduga hal ini akan terjadi. Wajah Renatta tampak lesu. Mukanya pucat pasi. Kondisi Renatta yang demikian menyulut kesedihan yang telah tertanam dihatinya. "Ren, maafkan aku ya. Aku tak dapat berbuat apa - apa kini." kata Imam berusaha mengibur seraya mengelus rambut Renatta yang tebal.

"Imam. Ayo segera bantu ayah.!" perintah ayahnya ketika ayahnya telah tiba di rumah.
"Ayah, tidak bisakah?" tanya Imam memelas kepada ayahnya.
"Imaaam..!" tegur ayahnya sambil geleng - geleng kepala.
Imam pasrah mengikuti perintah ayahnya. Digandengnya Renatta berjalan menuju tempat ayahnya berdiri di dekat keran air. Imam agaknya harus sedikit mengeluarkan tenaga untuk membawa Renatta karena pada saat itu Renatta berontak tak mau ikut dengannya. Keringat dingin mengucur lantas keluar dari tubuhnya hingga akhirnya Imam berhasil membawa Renatta pada ayahnya.

Ayahnya memegang punggung Renatta kemudian  memberi aba - aba kepada Imam. Renatta terguling pasrah walau sedikit berontak. Imam mengikat kaki Renatta dengan cepat.
"Bismillahi Allahu Akbar!" Ayahnya beseru ketika pisau besar telah mendekat dileher Renatta. Imam seketika tertunduk sedih tak berani melihat.
"Embeeeeeeeeeeeek..!!" Lumuran darah merah mengucur mengotori pekarangan. Dunia Renatta gelap. Setetes air mata meluncur dari sudut mata kiri Imam. "Selamat tinggal Renatta.!" katanya parau.

Kota Impian



Senyum sumrigah terpancar dari bibir ini kala melihat reka ulang video sebulan lalu.. Ada kerinduan dalam diri ingin mengulang peristiwa itu. Rindu berjalan sembari memotret setiap sudut walau tubuh peluh bermandikan keringat. Ada goresan peristiwa disana.  Perjalanan yang dulu hanya tersirat dalam impianku. Dan sebulan lalu, impian itu akhirnya ku gapai. Impian yang akhirnya terwujud dan awal mula aku memulai sebuah perjalanan baru ke negeri tetangga bersama kedua sahabatku.

Singapore. Bagi sebagian penduduk Indonesia Singapore sudah menjadi tradisi tempat kunjungan wisata yang patut dikunjungi. Dahulu, aku hanya bisa melihat negara itu dari suatu acara reality show di TV. Dulu, aku hanya melihat liputan artis - artis berlibur di Singapore. Dan dengan segenap syukur kepada - Nya, alhamdulillah aku sudah pernah singgah di negeri itu.

16 feb 2012 lalu tak akan terjadi tanpa sebuah tindakan nekad kami bertiga. Tak banyak yang tahu, demi mendapatkan tiket pesawat yang murah, kami memesannya setahun sebelum keberangkatan. Entah tepatnya di bulan apa, yang aku tahu di tahun 2011 silam impian itu bermula.

Anita, sahabatku yang paling rajin nyasar mengubek - ubek dunia maya tanpa sengaja melirik sebuah iklan tiket pesawat murah. Masuklah ia ke website air asia yang selalu rutin mengeluarkan tiket promo. Diliriknya harga tiket promo Denpasar - Singapore seharga Rp 99.000,- nalurinya tak percaya, namun tanpa berpikir lagi ia pun menginformasikan itu kepadaku dan Aan melalui sms.

Spontan terlonjak kaget kegirangan mencuat dari dalam diriku. Aku segera mengunjungi website air asia untuk memastikan. Kegirangan makin teraut dalam wajahku. Tak kuasa menahannya, aku lanjutkan untuk mencoba memesan tiket. Prosedur pengisian sudah kuisi, namun langkahku terhenti pada proses terakhir. Gubrak, hanya bisa melakukan pembayaran via credit card..!! Oala.. Tabungan hanya ratusan perak, boro - boro credit card?? " keluhku sendiri. Sembari sejenak berfikir mencari solusi, tak butuh berapa lama aku terfikir kepada kakakku, Brother Syam. Ya, dia bisa membantuku.

Esoknya, akhirnya aku mendapat ijin restu dari brother untuk memakai credit card-nya dan uang pengganti akan aku transfer dari rekening kami bertiga nantinya.
"www.airasia.com" langsung ku ketik pada alamat browser begitu laptop terhubung modem. Serangkaian prosedur pemesanan seperti kemarin telah ku lengkapi dan sesampainya pada prosedur pembayaran aku kirimkan pesan kepada kedua sahabatku. "Bismillah, sekarang aku pesan tiketnya". Semenit kemudian balasan sms dari keduany tiba.
Anita : "bismillah berangkat !"
Aan : "bismillah singapore !"
Sentuhan terakhir Aku klik "OK" dan berhasil. Jantungku berdegup kencang seketika. Hatiku bercampur aduk antara senang, cemas, tak menyangka dan tak yakin. Namun, diantara rasa tersebut yang paling meluap adalah rasa senangku. Tak ingin kupendam kesenangan ini sendiri, maka ku bagi dengan kedua sahabatku yang telah menanti dalam peraduan mereka di rumah masing - masing. Ku kirimkan berita itu melalui sms.
"Tiket Denpasar - singapore 16 feb 2012 pukul 06.30 am. singapore - denpasar 19 feb 2012 pukul 11.00 pm"
Setelahnya, mataku yang sudah lima watt tak dapat tertutup tergantikan oleh setoreh khyalan - khayalan akan singapore yang terlukis dalam atap kamarku. Insomnia hingga menjelang subuh. Hff..

Eurofia cengar cengir Sebagai bentuk ketidak percayaan akan kenekatan kami terus bergulir selama seminggu ke depan. Kala kami bertiga berkumpul kami selalu berkhayal apa dan bagaimana di singapore. Tak lupa pula, setiap hari Kami selalu bertanya pada mbah google mengenai info hotel, tempat - tempat wajib dikunjungi, dan lain sebagainya tentang kota singa tersebut.

Singkat cerita tahun 2012 pun tiba. Bulan Januari datang begitu cepat. Hujan mendominasi cuaca Bali kala itu. Seperti hujan yang terus menghiasi hari - hari di Bali, begitu juga perasaan kami. Curahan, luapan tak percaya bulan yang ditunggu hampir tiba. Sindrome kegalauan makin menjadi kala rencana pembuatan paspor yang awalnya di bulan oktober 2011 tertunda hingga mendekati Januari 2012.

Pertengahan Januari, aku dan Anita akhirnya membuat paspor. Serangkaian perjuangan bangun pagi hanya untuk ke kantor Imigrasi dari Nusa Dua menuju Denpasar, Anita lakukan selama tiga hari. Beruntunglah aku yang tinggal tak jauh dari kantor imigrasi, hanya Lima belas menit perjalanan.

Proses pembuatan pasporku dan Anita berjalan lancar. Namun sayang, tidak begitu yang terjadi pada Aan. Proses pembuatan paspornya mengalami banyak kendala saat wawancara berlangsung di kantor imigrasi.
"Mbak, ini kok nama orang tua di akte dan di KK beda ya?" sesosok Lelaki masih muda dengan rambut plontosnya mengintrogasi Aan.
"oh, saya tinggal sama kakek saya Pak." jawab Aan santai.
"Tapi di Kk ditulis status anak, wah ini harus ada surat keterangan dari catatan sipil" tegas Pak plontos itu padanya.
"Tolong bawa surat keterangan itu segera ya! Baru kemudian saya proses." lanjutnya lagi.
"Baik Pak." Aan hanya pasrah tertunduk lesu keluar dari ruang wawancara.

Esoknya Aan bergegas menuju kantor catatan sipil sepagi mungkin. Pukul setengah delapan ia  disana disambut bentakan Pak petugas yang telah tiba. "Catatan sipil hanya membuat Kartu Keluarga, tidak ada namanya surat keterangan seperti ini !" serunya sembari menunjuk surat keterangan yang dibawa Aan. Keributan adu argumen pun terjadi antara pak petugas dengan Aan hingga akhirnya Aan pulang ambil langkah seribu tinggalkan kantor sipil dengan muka tertekuk. "Il, tak usah menyusul ke kantor sipil" ketikan kalimat sms dari Aan masuk ke hp ku. Ada perasaan was-was dalam diri ketika membacanya. Oh, apalagi ini.

Sore harinya, Aan yang sudah siap dengan surat keterangan pernyataan yang telah direvisi bergegas menuju rumah Pak camat.
"Mbak, besok pagi sekali datang ke kantor ya, cap stempelnya ada di kantor."
Baru saja tiba, dengan terpaksa Aan harus pulang membawa harapaan akan esok semuanya berjalan lancar.

Pagi sekali dengan beribu keyakinan dan semangat ia datang ke kantor camat. Semangat yang timbul tadi hilang sekejap ketika petugas menyuruhnya datang keesokan hari lagi karena Pak camat sedang berada di rumah sakit. "Pak Camat sepertinya terserang DB, baru semalam di RS. "Gubrak! Ada - ada saja Pak camat.. Hrrr..! " keluhnya dalam hati.

Esoknya kembali ia menemui Pak Camat, dan berhasil mendapatkan tanda tangan orang - orang terkait. Tidak hanya tanda tangan camat, ketua banjar dan ketua lurah beserta cap stempel masing - masing kantor pun ikut nangkring di surat pernyataan tersebut. "Akhirnya.." ia menghela nafas lega.

"Tinggal menunggu keputusan Pak botak imigrasi esok." katanya padaku ketika aku menemaninya makan omelet dan serabi saat petang hari di warung kaki lima Jalan sudirman.

"jiaaaah!! Perjuangan benar - benar belum berakhir di tangan Pak Botak. Serangakaian adegan perdebatan yang terjadi akhirnya membuahkan hasil "Baik Mbak, silahkan ambil paspornya minggu depan."
Aan keluar dengan penuh rasa syukur dan bergembira.

Sorenya, kami bertiga berkumpul. Aku sudah tak sabar menunggu cerita perdebatan secara langsung dari mulut Aan.
"rrrgh, ingin rasanya aku kasih Pak botak itu coklat sebagai rasa terima kasih telah menyusahkanku."
"Jiaaah, disangka kau naksir lagi sama Pak Botak itu!" seruan Anita membahana diiringi tawa kami bertiga.

Dua minggu sebelum hari H, eurofia kembali hadir. Senang, gembira, dan deg-degan akan ketidaksabaran ingin segera kesana. Galau, risau dan bingung harus membawa Baju apa dan berapa banyak. Alhasil, rencana membawa hanya satu Koper untuk Baju kami bertiga sirna.   Kami akhirnya membawa koper sendiri - sendiri.

15 feb 2012 pukul setengah sebelas di pagi hari menjelang siang, aku sudah siap pamit pada Ibunda. Aan menjemputku dengan motor maticnya menuju rumahnya. Rencana kami naik taxi dari rumah Aan menuju rumah Anita batal. Taxi langgananku terpaksa menurunkan kami di halte bus Sarbagita karena harus ganti oli.

Peluh keringat telah membasahi tubuh. Aku dan Aan duduk menanti Bus Sarbagita dengan dua koper kami. Tak lama berselang Bus besar berwarna biru bergambar karikatur lelaki memakai udeng di kepala dan bunga jepun di telinga itu tiba. Ada nafas lega yang tercurah kala kami berada di dalam bus. AC dan tempat duduk nyaman sedikit menghilangkan peluh keringat akibat cuaca panas Bali. Sarbagita melaju dengan lancar dan cepat melintas by pass menuju Nusa Dua..

"Mbak mbak, maaf ya terpaksa harus turun disini. Ada KTT jadi jalan lurus ke halte depan di tutup." Mbak kernet Sarbagita menurunkan kami di tempat yang tak semestinya. Hff, apa lagi ini !

Kami turun sembari menyeret koper masing - masing. "Sekarang kita jalan menuju halte itu ya!". Aku menganga pasrah sembari berjalan beriringan dengan koper berat ini.
"Ya, lumayan training dulu sebelum jadi backpacker." kataku berusaha menghibur diri. "Ini mah, bukan backpacker ya kalau membawa koper begini." lanjutku lagi.
"Backpacker ala koper." sahut Aan.
Begitulah, kami berceloteh sembari terus berjalan dengan bawaan berat hingga akhirnya tiba di halte terdekat tuk menunggu jemputan sukarela dari sahabat kami, Anita.

Malam tiba. Kami berada di rumah Anita. Sengaja kami menginap di rumahnya karena esok kita berangkat pagi buta dan kebetulan jarak rumah Anita lebih dekat dari bandara. "coba lihat gedung itu kawan tinggi sekali !" Aan berseru menunjuk sebuah gedung Bank di seberang rumah Anita.
"Yeah, santai Mbak, besok kita lihat gedung tinggi sungguhan!" seruku.

Sesuai dugaan, malam tak dapat membuat kami tertidur pulas. Aku tahu, kami resah, galau ceria menghadapi detik - detik keberangakatan kami.

Kira - kira hanya sejam aku dapat tertidur nyenyak. Alaram dari handphone berbunyi terpaksa membangunkan kami. Pukul 3 pagi. Kami harus bergegas sampai di Bandara paling tidak jam 4 subuh. wow..

Benar saja, setelah tiba di Bandara dengan antaran sukarela dari ayah Anita, kami sudah lihat beberapa orang telah berada disana sebelumnya.
"Eits, bukannya ini dosen kita dulu! " Anita berbisik seraya melihat ke arah depan kami. Tiga laki - laki yang ku kenal adalah mantan dosen - dosen kami benar - benar ada disini bersama kami. Mereka bertiga bersama dengan 2 orang wanita yang tak kukenal. "tak berniatkah kita menyapa mereka?" tanyaku iseng. "Ah, males, gengsi...! Itu dosen telah membuatku menangis waktu ujian dulu." kata Anita enggan.
"wkwkwk.. !" kami pun cuek tak menyapa dan langsung pergi ngeloyor ke counter air asia.

Pukul 06.30 kami sudah berada di tempat duduk masing - masing. Anita dan Aan duduk di depanku. Disampingku duduk seorang Ibu paruh baya yang baik hati meminjamkanku pulpen saat pengisian data keberangakatan.

"Nguiiiiing....!" suara khas pesawat saat terbang mendesir di telingaku. Ini bukan pertama kalinya bagiku naik pesawat. Namun, aku hanya meramaikan suasana kegalauan dan kenorakan Aan dan Anita yang baru pertama kalinya naik pesawat.. "Wah, hup! Lihatlah keluar jendela! Kita di negeri awan kawan!" seruku sembari mendekatkan wajahku di sela kursi mereka. Mulailah aku dan Aan berimajinasi melihat keluar jendela dengan gumpalan awan sebagai topik utamanya. Sementara Anita hanya tekun melihat ke depan tak ingin menikmati ketinggian di sepanjang perjalanan kami. Lambat laun suara - suara pengkhayal hilang tergantikan oleh hening yang melanda jiwa - jiwa kami. Suasana penerbangan yang tenang walau kadang terasa goyang naik turun ketika menembus awan membuat kami tertidur. Pulas nan damai.

Dua jam berlalu. Kapten pilot berkoar dari speakernya memperingatkan penumpang bahwa pesawat hampir tiba mendarat di landasan. Aku tak ingin melewatkan pemandangan kota Singapore dari atas pesawat. "wow! Gedung - gedung, mobil - mobil yang berjalan dan pepohonan tampak terlihat serba mini bak rancangan miniatur arsitek.

"jeeesss!" Mendaratlah pesawat air asia. "welcome to Changi Airport!" bisikku kegirangan.

Rindu Nasi


Tepat di luar pintu bandara, aku terpana melihat Ular besi yang melintas melewati lintasan layang di hadapan kami. Aku menunjuk ke arah ular besi berwarna abu itu berharap bisa menaikinya menuju tempat peristirahatan yang tak tahu dimana letaknya. Keinginan menaiki ular besi urung tatkala sebuah mobil taxi berhenti dihadapan kami bertiga.
"Kita naik taxi saja" ajak Anita sembari menghampiri Pak supir taxi. "Do you speak English?" tanya Anita padanya.
"Tidak, saya melayu"
Paras melayu tergambar jelas dari wajah Pak sopir. Dengan ramah dan bersahabat ia mempersilahkan kami masuk setelah koper - koper kami diangkut kedalam bagasi.
Bahasa inggris yang pas-pasan membuat kami bersyukur ternyata si Sopir berbicara malaysia. Setidaknya bahasa malaysia tidak berbeda jauh dengan bahasa kita., itu yang ada dipikiranku saat itu.

"Selamat datang di negeri kaya ini! Lihatlah betapa cantiknya Singapore" Pak sopir membuka percakapan khas dengan logat melayunya saat mengendarai taxinya.
"Hendak kemana?"
"Hotel 81 Bugis, Pak" jawab Anita langsung. Walau tak tahu apakah di hotel tersebut masih tersedia kamar atau tidak., hanya nama hotel itu yang teringat saat hunting hotel murah di mbah google.

Sepanjang perjalanan, kami dan Pak Sopir asyik bercakap - cakap. Terkadang aku mengerti apa yang diucapkan, namun terkadang aku bingung apa yang diucapkan. Ternyata, tidak mudah juga memahami bahasa melayu. Pendapatku akhirnya berubah setelah ini. Yang aku tangkap dari ucapannya, pak sopir masih dengan sikap ramahnya menceritakan bagaimana nikmatnya tinggal di singapore. Awal pertama kali hanya untuk berlibur. Kedua kali akhirnya bekerja dan menetap di negara singa ini., itu yang kutangkap dari kisah perjalanan hidupnya sampai di negeri ini.

Sepanjang perjalanan kami larut saling bertukar tanya maupun pendapat dengan Pak sopir ditemani iringan lagu - lagu khas melayu dari radio yang diputarnya. sesekali kami melihat dan menikmati atmosfer di sekeliling kami. Jalan rayanya lebar melebihi lebar jalan by pass ngurah rai. Pohon - pohon rindang nan bergerumbul tak sebanyak di sepanjang by pass. Tak ada sampah, bersih, dan hanya sedikit dedaunan kering yang terkulai jatuh di pinggiran jalan. Jalanan macet namun tak semacet jalan by pass.. Lalu lalang kendaraan mobil beraneka ragam merk dan bentuk memadati jalanan. Tak banyak mobil - mobil mewah yang melintas, sedikit sepeda motor yang ikut meramaikan jalan ini dan yang terpenting tak ada terdengar bunyi klakson yang berkoar - koar seperti di jalanan by pass. Masing - masing tertib melintas jalan raya. Senyuman kecil yang lantas berubah jadi senyuman cengar cengir teraut dari muka - muka anak kampung Indonesia ini.

Aku Makin tercengang dan takjub kala melihat gedung - gedung tinggi menjulang di kanan kiri persis suasana Jakarta. Namun tentunya lingkungan sekitarnya bersih tak sama dengan jakarta.
"Nah, itu tampak marina bay disana!" seru Pak sopir sembari menunjuk ke arah 3 bangunan tinggi nan megah dan diatasnya terdapat bangunan lagi menyerupai perahu yang menutupi ketiga atap bangunan. Tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah lintasan berbentuk lingkaran sebagai tempat lintasan kereta gantung. "Singapore flyer." aku menunjuk gambar tampak malam singapore flyer di peta yang tadi aku ambil di bandara.

Setengah jam kira - kira taxi menempuh perjalanan dari bandara hingga sampai di bugis street, tempat lokasi hotel 81 bugis berada. Keluar dari taxi dengan membayar sebesar 20 sgd, kami turun tepat di depan pintu hotel. "Selamat bersenang - senang di Singapore" itulah kata perpisahan dari Pak sopir yang disambut dengan senyuman hangat dari kami bertiga.

Kurasakan panas menyengat setelahnya. Cuaca Singapore kali itu tak beda jauh dengan Cuaca Denpasar. Masih tak percaya juga, tak kusangka aku dan kedua sahabatku benar - benar di luar negeri. Sekarang koper - koper kami masih di depan pintu masuk hotel. Kami menarik koper memasuki lobi hotel. "Do you still have available room here?" kataku pada resepsionis pria dan wanita yang sedang bertugas. Wanita berambut panjang dengan blazer hitam yang membaluti tubuhnya kemudian melihat ke monitor komputer dihadapannya. Dia memberitahuku ada sebuah kamar tersedia dan setelah aku bertanya berapa harga kamar selama 3 hari ia pun berkata, "555 sgd for 3 nights". Aku berpaling pada Anita dan Aan. Kalkulator yang ada di meja resepsionis langsung kuambil dan mulai menghitung. "555 x 7.200" bisikku sembari memencet tombol pada kalkulator. "Deseng, 4jt an!" seru ku dalam hati. Aan dan Anita pun bergumam tak setuju. "Do you know where is 81 herriatage hotel?" tanya Anita langsung pada mbak resepsionis. "In jalan sultan and this is the phone number" Si mbak menyodorkan no telp hotel tersebut.

Kami keluar hotel Dengan lunglai sembari menyeret koper kembali. Perut sudah berdendang menyanyikan lagu khas kriuk kriuk. Raga terasa lelah juga. Mata pun mulai mengantuk. Tak sabar rasanya ingin berbaring sejenak. Apadaya kita belum menemukan hotel yang sesuai budget.

Sejenak kita berdiam masih di depan hotel ini. Tepat di sebelah gedung hotel terdapat sebuah mini market. Hasrat lapar tak kuasa ku tahan dan segera memutuskan membeli beberapa cemilan disana. Aku dan Anita memasukinya. Sementara Aan tetap di tempat sembari menjaga koper - koper kami.

Friday, October 26, 2012

Sebuah Pengakuan

"Hfff..!" Aku menghela nafas lega begitu tiba di rumah. Kuhempaskan tubuh diatas sofa ruang tamu. Istirahat sejenak merenggangkan tubuh yang kaku. Tubuhku pegal nan ngilu. Aku terlentang sembari menutup mata dan mengosongkan pikiran. Berusaha membuang jauh sesak penat yang terselip di otak. Pekerjaan kantor menguras tenaga dan pikiran. Belum lagi jalanan macet tak pernah absen mengikuti perjalanan pulang kerjaku. Hasilnya, selalu begini. Tiba di rumah langsung terkapar, walau seruan Emak tuk segera mandi sudah menggelegar memecahkan otak.

"Kriiiiiiing..!" dering hanphone tiba - tiba mengganggu ketenangan. Dengan seribu kemalasan kulirik layar hanphone. "Bang Jose calling" tertera nama atasanku disana. Membacanya saja membuat mukaku tertekuk. Kudiamkan saja hanphone itu berbunyi. Tak aku hiraukan hingga akhirnya berhenti sendiri.

"Kreoook" aku meregangkan tubuh kekanan dan kekiri. Beranjak dari sofa hendak mengambil handuk lalu lanjut menuju kamar mandi. Baru saja sampai di kamar tidurku, hanphone berbunyi kembali. Lagi - lagi Bang Jose menghubungi. Dengan muka kesal, terpaksa aku terima.
"Assalamualaikum..!" Seruan salam terdengar dari seberang.
"Waalaikumsalam..!" jawabku dengan muka senyum yang terpaksa.
"Dek, bagaimana kabarnya?" tanya Bang Jose. Seketika aku mengernyit heran. Tumben kali ini Bang Jose menelpon diselingi basa basi menanyakan kabar. Biasanya ia langsung nyerocos ngomongin kerjaan. Untuk sapaan Adik sih aku sudah terbiasa. Bang Jose selalu menyebut kata Dek untuk setiap staff bawahannya yang usianya lebih muda darinya.
"Ya Bang, baik. Ada apa?" aku balik bertanya.
"Begini. Sebenarnya sudah lama Abang mau ngomong ini." . Sejenak ia terdiam.
"Ya, ngomong aja Bang." 
"Emmmm, tapi gimana ya? Gak enak aja ngomongnya ya, Dek." Ia terdiam lagi.
"Teseng..! Deg..!" jantungku seketika berdegup. Terlintas dipikiranku beribu duga dan prasangka. Dugaan kalau - kalau si Bang Jose ternyata suka padaku, atau ternyata siap memecatku. "Oh tidak..!" feeling-ku sudah tak enak. Posisiku yang tadinya berdiri langsung terduduk diatas kasur.
"Eala Bang, dibawa enak aja." timpalku.
"Hmm, Sebenarnya sudah lama Abang mau ngaku ke Adek. Tapi waktu ini gak sempat." kata - katanya menambah pikiranku was - was dan dipenuh misteri.
"Silahkan Bang." kataku pasrah. Tubuhku menjadi panas. Jantung berdegup lagi tak karuan.
"Jangan marah ya?"
"Tidak Bang."
"Seminggu lalu, Abang lihat di Musollah pas wudhu siku tanganmu gak terbasuh tuh." akhirnya ia menuntaskan pembicaraannya.
"Oh, itu toh. Kok bisa lihat Bang?" tanyaku akhirnya lega.
"Gak sengaja, Dek. kan tadi Abang bilang mau ngaku." 
Ya udah Bang, makasih yo tegurannya." aku nyengir kuda.
"Tuut.. tuut.." sambungan telpone terputus.
Aku bergegas melepas jilbabku, mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi sambil geleng - geleng kepala.

Wednesday, October 24, 2012

Telor Busuk

"Titititittiti..." Jees.." Suara ular besi itu terdengar jelas dari pendengaran. Kami melangkah masuk kedalamnya setelah secara otomatis badan pintu terbuka. "Wow..!' kami terkejut melihat keadaan penuh sesak di dalamnya. Tak ada tempat duduk yang tersisa. Para ibu - ibu, bapak - bapak, lansia dan anak - anak memadati ruangan. Kami pun terpaksa berpegangan pada pegangan besi yang tergantung diatapnya.

"Doors are Closed! Titititittiti..." Jees..! " lima menit kemudian pintu otomatis tertutup dan sang ular panjang itu pun melaju kencang. "Nguiiiiiiing..!" begitu bunyinya.

Sepuluh menit kemudian, suara sang pramugari kembali bersua.
"Doors are opened..!!"
"Titititittiti..." Jees..!" pintu terbuka. Sebagian orang ada yang melangkah keluar, dan sebagian lagi ada yang masuk lagi. Tapi tetap saja tak ada tempat duduk yang tersedia. 
"Doors are closed..!!"
"Titititittiti..." Jees..!" pintu tertutup kembali. Ular besi kembali melaju kencang.

Walau lelah, aku tetap berpegangan seraya menebarkan pandangan ke kanan dan ke kiri memperhatikan orang - orang. Di depanku ada seorang Bapak - bapak membawa buku sembari memangku anak perempuannya. Disebelah Bapak itu ada seorang nenek - nenek duduk menahan kantuk. Ada juga serombongan anak - anak sekolah berbincang - bincang sembari memainkan hanphone canggih mereka. Ditengah lamunanku memperhatikan orang - orang, ada sedikit keanehan yang tidak biasanya kualami. Hidungku membaui aroma. Sebuah aroma yang pernah kukenal. Semakin lama bau itu menusuk hidung, membuat pusing kepala seketika. Aku menoleh kearah dua sahabatku seraya mengernyitkan dahi. Mereka berdua ternyata merasakan hal serupa. Kami yang tak kuasa menahan bau itu pun akhirnya menutup kedua lubang hidung. Aku lihat sekeliling. Orang - orang disamping kanan kiri, depan belakangku juga bersamaan menutup hidung mereka. 

Lima belas menit kemudian.
"Doors are opened..!!" "Titititittiti..." Jees..!"
Aku lihat papan diluar menunjukkan bahwa kami telah tiba di tempat tujuan.
"Kita sampai." kataku.
Kami bertiga cepat - cepat melangkah menuju pintu keluar menghindari aroma bau tadi yang masih melekat di hidung.
"Gila... Aroma kentut Telor busuk nyangkut juga tadi..!!" seruku setelah keluar dari badan ular besi.
"Wkwkwkwkwk..!!" Kami tertawa bersamaan.
"Siapa yang kentut ya?" kata Aan sembari memandang curiga kearah Anita. Aku pun tak ketinggalan memandanginya.
"Bukan aku..!!" seru Anita kemudian.
"Ada - ada saja.." timpalku.

Kami menghela nafas lega hampir bersamaan. Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Stasiun Nicole Highway menyambut kami dengan kehangatan meninggalkan jejak telor busuk di dalam MRT tadi.

Tuesday, October 23, 2012

Gadis Penumpang Bus


Aku duduk disitu. Di halte menanti bus yang kutunggu. Kuputar mp3 yang aku taruh disaku. Sembari menunggu, mp3 itu pun berlagu. Sesekali hentakan kaki ini mengikuti irama yang mengalun. Mencoba hilangkan penat yang sampai ke ubun - ubun. Lumayanlah suara musik menghibur walau bibirku masih sedikit manyun. Lelah memang terasa. Menanti bus yang lama sekali tiba. Memang aku tak sendirian disana. Ada ibu - ibu paruh baya duduk dengan terkantuk - kantuk. Kakek - kakek lansia dengan cucunya yang masih belia. Pria berdasi yang berdiri diujung tiang halte seraya memainkan hanphone. Dan aku sendiri, seorang pelajar yang baru pulang dari kuliah duduk dengan muka tertekuk. 

Lagu yang sedari tadi kuputar tiba - tiba menghilang. Lagu milik band Slank yang terakhir kudengar tersendat ditengah jalan. Oh ternyata baterai mp3-ku koma. Alhasil, kini aku aku hanya diam tak bersuara. Tak ada hentakan kaki yang sesekali berdentum. Tak ada nyanyian hati yang ikut melantun. Namun kini, hanya suara - suara bising terdengar. Suara klakson - klakson kendaraan terdengar hingar bingar. Suara - suara knalpot truk - truk besar, mobil - mobil pribadi dan sepeda motor juga ikut meramaikan. Asap yang mengepul tak dapat dipungkiri menjadi penyemarak hiruk pikuk jalanan. Akhirnya polusi tak terhindarkan bahkan terus mengalami peningkatan.

"Wuss..!!" suara pintu bus terbuka. Akhirnya hatiku lega. Kelelahan sehabis kuliah serta menanti bus yang lama sirna juga. Kami yang ada di halte satu per satu memasuki bus kota setelah beberapa orang keluar dari bus. Keadaan di dalam bus sedikit mendinginkan hati. Cuaca panas diluar berubah adem dan nyaman di dalam bus ber-AC ini. Aku pilih tempat duduk paling belakang. Karena hanya disitulah tempat duduk yang tersisa.

Dua puluh menit kemudian bus berhenti pada halte berikutnya. Penumpang yang duduk disebelahku yang kini keluar. Sedikit penumpang yang baru datang. Hanya ada dua orang kulihat. Seorang remaja laki - laki memakai seragam SMA dan seorang gadis. Seketika aku terpana melihat gadis itu. Wajahnya mempesona. Matanya memancarkan cahaya. Hidungnya mancung bak hidung orang timur tengah. Bibirnya seksi seperti bibir Angelina Jolie. Pipinya tirus nan mulus. Tubuhnya tinggi nan langsing. Kulitnya hitam namun eksotik, kencang nan segar. Rambutnya hitam keriting terurai panjang. Pakaiannya sopan menggunakan kemeja dan celana panjang. High heels yang ia kenakan semakin membuat tubuhnya jenjang. Tas selempang terselampir dibahunya. Ia berjalan dengan anggun seraya menyebarkan pandangan berusaha mencari tempat duduk yang tersisa. Ia berjalan menuju kearahku. Tepatnya kearah tempat duduk disebelahku yang kosong. Seketika sekujur tubuhku kaku membeku. Jantungku berdegup tak menentu. Aku tak bergerak. Matanya kini menatapku. Ia tersenyum padaku. Kubalas senyumnya walau aku tahu terasa kaku. Hatiku melayang dibuatnya. Ketar - ketir perut tambunku bergoyang. Keringat seketika mengucur tak terhalang.

Ia tiba di depanku, bersiap mengambil tempat duduk disebelahku. Kini aku dapat dengan jelas melihat wajahnya. Namun ia tidak langsung duduk disebelahku. Ia membungkuk dihadapanku seraya berkata. "Gendut"
Aku terkejut. "Kurang ajar benar gadis ini" pikirku.
"Hi Gendut!"
Lagi - lagi ia mengataiku dengan sebutan itu.
"Cepat bangun!"
Lah, kali ini ia berseru menantangku. Wajahnya berkerut dan menunjukkan amarah yang tak terduga.
Dahiku berkerut. Aku tak mengindahkannya.
"Plak!" ia menampar pipiku yang cubby dengan keras.
"Adoooow..!!!" aku mengaduh dengan lantang.
Pipiku kesakitan, mataku berkunang - kunang. Aku lihat gadis berseragam SMA kini didepanku. Bukan gadis berpenampilan anggun nan eksotik itu. Gadis itu ternyata adik perempuanku. Dengan muka sangar ia berdiri menatapku yang kesakitan.
"Cepat bangun Genduuuut..!!" Ia berseru lagi sembari melemparkan bantal kearah mukaku. Untung saja aku langsung menghindar.
"Dasar kebo..!" Ia akhirnya melenggang pergi keluar dari kamarku.

Monday, October 22, 2012

Beli Sisir

Renna berkaca sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Ia baru saja selesai keramas pagi itu. Seperti biasa rambutnya akan tampak lurus sehabis keramas. Ia pun senang dengan tampilan rambutnya yang kini rapi. Ia kemudian kenakan kemeja panjang dan celana jins. Pakaian itu selalu menjadi kostum sehari - harinya untuk bekerja. Beruntung di kantornya tak mewajibkan kariyawannya untuk mengenakan rok, maka ia bisa dengan bebas menggunakan celana jins yang selalu menjadi andalannya dalam berpakaian.

Usai rutinitas berpakaian, ia memperhatikan rambutnya di cermin. Rambut yang masih basah ia sisir sebenatar. Merasa sudah rapi, ia membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Ia menuju meja makan dan siap menyambar sepiring nasi goreng buatan Emaknya yang telah bertenger cantik diatas meja. Kunyahan demi kunyahan ia nikmati santapan hingga akhirnya sepiring nasi goreng tersebut habis tanpa sisa.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. "Assalamualaikum..!!" ia mengucapkan salam pada Emaknya yang sedang bersantai di teras depan. Ia pun melenggang pergi bersama vespa abu - abu yang biasa ia kenakan sehari - hari.

Tiba di kantor, ia dijegat oleh sang Supervisor atasannya.
"Renna, tolong antarkan paketan ini ke kantor pos ya!" 
"Siap Bu..!" 
Ia kemudian kembali ke parkiran. Ia hendak memakai helm kemudian tak sengaja berkaca pada spion vespanya. Tampak disana ia menyadari rambutnya kini sudah kering tak beraturan. Namun ia cuek langsung kenakan helm lalu melaju pergi kembali bersama vespanya.

Sial sekali hari itu kantor pos tampak ramai. Ia taruh helm diatas vespa, kemudian berjalan masuk seraya membawa satu kardus paketan berisi dokumen. Antrian di dalam cukup panjang. Untung saja masih ada tempat duduk kosong yang bisa ia duduki. Sembari menunggu ia mengambil headset dan handphone, memutar lagu kesukaannya.

Sekitar tiga puluh menit berlalu. Giliran nomor antriannya dipanggil kini. Ia pun berjalan ke kasir depan.
"Silahkan ditimbang dulu, Mbak.!" perintah seorang Bapak dari balik meja kasir itu. Ia menaruh paketan pada timbangan tersebut. Pak kasir kemudian melirik angka pada timbangan tersebut, kemudian matanya tertuju pada layar komputer.
"Tiga kilo ya Mbak, dikirim kemana?" tanyanya.
"Aceh Pak! Ini alamatnya.." ia memindahkan paketan itu dan menunjukkan alamat tujuan yang telah tertulis dan tertempel pada kardus bagian depan.
"Baik. Isinya apa?" lanjutnya kemudian sembari mengetik di komputer.
"Dokumen, Pak." jawabnya.
"Wah, jauh sekali kirimnya." komentar si Bapak sambil masih asyik memasukkan data di komputer.
"Hehe, ia Pak, cabang kantor jauh."
"Biayanya seratus tiga puluh sembilan ribu ya." kata si Bapak kemudian seraya menyodorkan invoice padanya. Reena mengambil uang dari kantong celana jins kemudian ia berikan pada si Pak kasir.
"Ini kembaliannya. Terima kasih ya." Pak kasir memberi uang kembalian disertai senyum manis.
"Ya, terima kasih." sahutnya.
Reena hendak melangkah pergi, namun tertahan oleh ucapan si Bapak Kasir.
"Mbak, nanti pulang dari sini beli sisir ya." kata si Bapak sambil tersenyum nyegir. Renna pun tersenyum nyengir kemudian bergegas pergi dari situ.
"Sialan tuh Pak pos.!" batinnya dalam hati.